AKLIMATISASI

Standard

Pendahuluan

Aklimatisasi merupakan proses penyesuaian planlet dari kondisi mikro dalam botol (heterotrof) ke kondisi lingkungan luar (autotrof). Planlet yang dipelihara dalam keadaan steril dalam lingkungan (suhu dan kelembaban) optimal, sangat rentan terhadap lingkungan luar (lapang). Mengingat sifat-sifat tersebut, sebelum ditanam di lapang, planlet memerlukan aklimatisasi. Aklimatisasi dapat dilakukan di rumah kaca atau pesemaian, baik di rumah kaca atau pesemaian. Dalam aklimatisasi, lingkungan tumbuh (terutama kelembaban) berangsur-aengsur disesuaikan dengan kondisi lapang (Rahardja 1989).

Tanaman memiliki sifat totipotesi yang merupakan kemampuan setiap sel, dari mana saja sel tersebut diambil, apabila diletakan dalam lingkungan yang sesuai akan dapat tumbuh menjadi tanaman yang sempurna (Hendaryono & Wijayani 1994). Pemindahan eksplan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

 

Tujuan

            Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah menanam planlet nenas bangka dan keladi merah di media arang sekam.

 

 

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah polibag, karet, dan plastik untuk sungkup. Bahan yang digunakan adalah arang sekam, planlet Nenas bangka dan Keladi merah, air untuk membersihkan akar dari agar media sebelumnya.

 

Pembahasan

Aklimatisasi merupakan proses pemindahan planlet dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tak terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi merupakan kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang aseptik (Wetherell 1982).

Planlet yang dapat diaklimatisasi adalah planlet yang telah lengkap organ pentingnya seperti daun akar dan batang (jika ada), sehingga dalam kondisi lingkungan luar planlet dapat melanjutkan perumbuhannya dengan baik. Selain itu aklimatisasi juga memerlukan media yang tepat untuk pertumbuhan planlet. Aklimatisasi dilakukan dengan memindahkan planlet kedalam polybag yang berisi media dan disungkup dengan plastik bening. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif.

Percobaan ini menggunakan planlet tanaman keladi merah dan tanaman nenas yang telah dikulturkan pada media kultur sampai memenuhi syarat untuk diaklimatisasi. Hal yang pertama kali dilakukan praktikan adalah mengeluarkan planlet dari botol dengan hati-hati agar agar akar dari planlet tidak putus yang dapat meneyebabkan tanaman menjadi stres dan mudah mati. Kemudian planlet dicuci bersih dengan air kran sampai semua agar-agar media  sudah tidak ada pada akar planlet, dimaksudkan agar tidak terjadi kontaminasi. Media yang digunakan yaitu arang sekam pada polybag ¼ kg. Kemudian planlet ditanam dan wadah yang telah ditanami planlet tersebut selanjutnya ditutup dengan plastik bening, hal ini dilakukan untuk menjaga kelembaban dilingkungan tumbuh planlet lalu disimpan di tempat yang teduh. Penyiraman dilakukan hanya jika media dinilai kekurangan air, selain itu penyiramana juga dilakukan untuk menjaga kelembaban.

Data pengamatan menunjukan bahwa dua polybag sampel tanaman keladi merah mengalami pertumbuhan yang baik dilihat dari pertambahan tinggi dan jumlah daunnya. Rata-rata tanaman keladi tersebut mencapai tinggi maksimal 9,6 cm, dan rata-rata jumlah daun tanaman keladi tersebut pada akhir pengamatan berjumlah 5 helai dari 3 helai diawal penanaman. Begitupun pada tanaman nenas. Rata-rata tinggi maksimalnya mencapai 5,17 cm dan rata-rata jumlah daunnya 8 helai dari 4 helai pada awal penanaman. Keberhasilan tersebut dapat disebabkan tanaman yang dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan barunya. Nutrisi yang tercukupi selama proses aklimatisasi seperti penyiraman dan perolehan cahaya cukup baik. Disamping itu proses pengerjaan aklimatisasi yang sangat baik juga mendukung keberhasilan percobaan ini.

 

Simpulan

Aklimatisasi merupakan proses pengadaptasian planlet terhadap lingkungan luar, dan merupakan proses yang sangat penting dalam kultur jaringan tanaman. Hasil percobaan menunjukkan semua planlet (tanaman keladi dan nenas) yang diaklimatisasi, dapat tumbuh dan mengalami perkembanagan, sehingga dpat dikatakan berhasil. Hal ini terlihat dari pertambahan tinggi dan jumlah daun dari tanaman tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s