biofisik

Standard

Pendahuluan

Rasio suatu massa suatu benda atau zat dengan massa air pada volum dan temperatur yang sama disebut bobot jenis. Massa jenis zat cair dapat diukur secara langsung dan tidak langsung. Mengukur massa jenis secara langsung dengan menggunakan alat hidrometer. Alat itu berupa tabung kaca berskala dan bagian bawahnya diberi pemberat. Masa jenis zat cair dapat diketahui secara langsung dari skala yang segaris dengan permukaan zat cair. Hidrometer berskala 1,000-1,060 dengan interval 0.001. jika suhu cairan yang diukur bukan 60F, maka harus dikoreksi terlebih dahulu.

Tegangan permukaan merupakan salah satu sifat akibat gaya langsung dari gaya antarmolekul yang terdapat dalam zat cair. Jadi tegangan permukaan cairan dapat didefinisikan sebagai daya tahan lapisan tipis suatu permukaan cairan terhadap gaya untuk mengubah luas permukaan cairan. Besar kecilnya tegangan permukaan cairan tergantung pada zat terlarut dalam cairan tersebut. Jika konsentrasi zat terlarut pada permukaan lebih kecil dari konsentrasi zat yang ada di dalammya, maka akan menaikan tegangan permukaan dan sebaliknya. Selain itu tegangan permukaan berhubungan dengan gaya grafitasi. Jika gaya gravitasi lebih besar dari tegangan permukaan maka cairan akan jatuh, jika gaya grafitasi sama besar dengan tegangan permukaan maka cairan akan tetap pada posisinya.

Emulsi merupakan larutan metastabil yang terdiri dari dua atau lebih senyawa yang saling tidak melarutkan. Dalam emulsi terdapat dua fase, yaitu fase terdispersi dan fase pendispersi sebagai medianya. Ada dua jenis emulsi berdasarkan asalnya, yaitu emulsi alamiah (merupakan produk dari sistem metabolisme makhluk hidup) dan emulsi industri. Sedangkan dua tipe emulsi berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, maka emulsi dibedakan menjadi dua : emulsi tipe W/O (emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar dalam minyak, air berfungsi sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal) dan emulsi tipe O/W (emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air) (Ansel,1989).

Sistem koloid terdiri atas fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Ukuran partikel koloid berkisar antara 1 nm- 100 nm. Jadi tergolong heterogen dan merupakan sistem dua fase. Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil. Apabila terdapat gaya tarik-menarik tersebut tidak ada atau lemah. Liofob berarti takut cairan (Keenan, 1980).

Larutan penyangga atau larutan buffer atau dapar adalah larutan yang dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Bila ditambahkan asam atau basa, kerja penyangga itu jelas kelihatan terutama bila asam atau basa berada bersama-sama dalam kepekatan yang sama kemolarannya (Rivai, 1995). Larutan penyangga dapat dibedakan atas larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa. Larutan penyangga asam mempertahankan pH pada daerah asam (pH<7), sedangkan larutan penyangga basa mempertahankan pH pada daerah basa (pH>7). Larutan penyangga digunakan secara luas dalam kimia analitis, biokimia, bakteriologi, fotografi serta industri kulit dan zat warna. Cairan tubuh baik intra sel maupun ekstrasel merupakan larutan penyangga. Larutan penyangga tidak berubah pHnya bila diencerkan (Petrucci, 1985).

Osmosis adalah perembesan pelarut dari pelarut murni ke dalam larutan atau dari larutan yang lebih encer ke larutan yang lebih pekat melalui selaput semipermeabel. Osmosis dapat dicegah dengan memberi suatu tekanan pada permukaan larutan. Tekanan yang di perluakan untuk menghentikan aliran pelarut dari pelarut murni menjadi larutan. Tekanan osmotik tergolong sifat koligatif karena harganya bergantung pada konsentrasi bukan pada jenis partikel. Pengukuran tekanan osmotik juga digunakan untuk menetapkan massa molekul relative zat, teristimewa untuk larutan yang sangat encer atau untuk zat yang massa molekulnya relatif sangat besar.

 

Tujuan

Pada percobaan biofisik ini bertujuan untuk mengamati dan mengetahui sifat-sifat biofisik berbagai larutan baik wujudnya maupun material yang menyusun larutan tersebut. Selain itu menentukan bobot jenis berbagai larutan, mengetahui pengaruh tegangan permukaan, mempelajari cara pembuatan berbagai macam emulsi, koloid, dan larutan bufer serta mempelajari tentang tekanan osmotik pada larutan dan darah.

 

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah hidrometer, gelas ukur, tabung reaksi, termometer, jarum, gelas arloji,  pipet tetes, mohr, pipet volumetric, bulp, mortar, gelas piala, mikroskop, indikator pH, dan kaca objek.

Bahan-bahan yang digunakan adalah akuades, air kelapa, air sumur, air sungai, urin manusia, larutan NaCl 3%, NaCl 5%, NaCl 0,3%, NaCl 0.9%,  air sabun, cairan empedu, eter, alkohol, minyak tanah, NaHPO, KHPO larutan NaCl 20%, minyak kelapa, gum arab, susu, margarin, sudan merah, gelatin 2%, pati 2%, biru berlin, Ferihidroksida, MgSO, CuSO, NaCl 10%,  Asam Asetat, dan Natrium Asetat.

 

Prosedur percobaan

Bobot jenis akuades, NaCl 3%, NaCl 5%, air kelapa, air sumur, air sungai, dan urin diukur dengan hidrometer. Percobaan tegangan permukaan dilakukan dengan meletakan satu jarum pada gelas arloji, kemudian diisi akuades, cairan empedu, air kelapa, air sungai, air sabun , secara bergantian. Kemudian diamati apa yang terjadi pada jarum di tiap-tiap larutan, mengapung atau tenggelam. Untuk mengetahui hubungan jumlah tetesan beberapa cairan dengan tegangan permukaan dilakukan dengan mengambil 1 ml larutan akuades, NaCl 20%, alkohol, minyak tanah, dan air sabun secara bergantian. Dengan cara di masukan ke dalam  pipet mohr dan hitung jumlah tetesan tiap cairan ilmiah tersebut.

Pada pembuatan emulsi minyak kelapa dengan air dilakukan dengan menggabungkan minyak kelapa dengan air masing-masing volumenya sama dalam tabung reaksi lalu dikocok dan kestabilannya diamati. Lalu dilakukan hal yang sama pada pembuatan emulsi miyak kelapa dengan air sabun. Pada pembuatan emulsi minyak kelapa dengan gum arab yaitu 1gram gum arab dicampur dengan 5ml minyak kelapa dalam mortar, kemudian gerus sampai homogen, lalu dicampur lagi dengan 3ml air dan diaduk kembali sampai homogen, kemudian ditambahkan 5ml air sedikit demi sedikit dan diaduk, setelah itu tetesannya amati dibawah mikroskop. Untuk emulsi alamiah, susu segar diamati kestabilannya didalam tabung reaksi, kemudian tetesannya, diamati di bawah mikroskop, begitu juga dengan emulsi industri, misalnya margarin, diamati kestabilannya di bawah mikroskop.

Pada proses pengendapan koloid dengan garam ada dua pengamatan yaitu, pengendapan garam dengan liofil dengan cara gelatin 3ml dan NaCl 10% 1ml di campur, karena belum terdapat endapan maka ditambahkan dengan MgSO. Pengendapan koloid liofob dengan cara biru berlin dan ferihidroksida dicampur dengan NaCL 10% pada tiap tabung reaksi. Kemudian diamati apa yang terjadi, apakah terbentuk endapan.

Pada percobaan Buffer, diminta untuk membuat buffer asam lemah dengan garamnya dan basa lemah dengan garamnya. Pada buffer Asetat, disediakan 5 tabung reaksi, tabung pertama  campuran 23,125 ml Asam asetat dengan 1,8 ml Natrium Asetat, tabung kedua campuran 20,5 ml Asam Asetat dengan 4,5 ml Natrium Asetat, tabung ketiga campuran 15,75 ml Asam Asetat dengan 9,25 ml, tabung keempat campuran 10 ml Asam Asetat dengan 15 ml Natrium Asetat, dan tabung kelima campuran 5,25 ml Asam asetat dengan 19,75 ml Natrium Asetat. Kemudian diukur pH masing-masing. Begitu juga pada buffer Fosfat standar, dicampur larutan 1/15 M NaHPOdan KHPOdengan berbagai perbandingan, tabung reaksi pertama 1,25 ml : 23,75 ml, tabung kedua 3ml :  22 ml, tabung ketiga 6,625 ml : 18,375 ml, tabung keempat 12,5 ml : 12,5 ml, dan tabung kelima 17,875 ml : 7,125 ml. kemudian dihitung pH masing-masing tabung reaksi.

Pada percobaan Tekanan Osmotik pada darah, dimasukan 5ml NaCl 0,3% NaCl 0,9% dan NaCl 5% pada tiga buah tabung reaksi. Kemudian darah diambil satu atau dua tetes. Disuspensikan dengan NaCl yang disediakan. Perhatikan suspensi yang  dibentuk, apakah terdapat endapan kemudian  diamati di bawah mikroskop.

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Percobaan

Tabel 1 Bobot jenis zat cair

No

Jenis Zat cair

T(C)

T(C)

BJ ukuran (g/ml)

BJ terkoreksi (g/ml)

1

Akuades

20

30

1,000

1,003

2

NaCl 3%

20

30

1,018

1,021

3

NaCl 5%

20

29

1,031

1,034

4

Air kelapa

20

31

1,010

1,014

5

Air sumur

20

31

6

Air sungai

20

31

7

Urin

20

31

1,029

1,033

 

T  : 20C

Contoh perhitungan :

  • Air kelapa      = 3,67  4

Jadi nilai BJ terkoreksi = 1,010 + 0,004 = 1,014 g/ml

 

 

Tabel 2  Tegangan permukaan cairan alamiah

No

Jenis Zat Cair

Terapung/Tenggelam

1

Akuades

Terapung

2

Cairan empedu

Terapung

3

Air kelapa

Terapung

4

Air sungai

Terapung

5

Air sabun

Tenggelam

 

 

 

 

 

Tabel 3  Jumlah tetesan dan tegangan permukaan cairan

No

Jenis Zat Cair

Jumlah Tetesan

1

Akuades

37

2

Alkohol

85

3

Minyak tanah

90

4

Air sabun

84

5

NaCl 20%

48

 

Tabel 4  Emulsi

No

Jenis Campuran

Jenis Emulsi

Fase pendispersi

Fase terdispersi

1

Minyak kelapa+air

W/O

Minyak

air

2

Minyak kelapa+sabun

O/W

Air

Minyak

3

Minyak kelapa+gum arab

W/O

Minyak

Air

4

Susu

O/W

Air

Minyak

5

Margarin

W/O

Minyak

Air

Gambar Emulsi

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 susu segar.                                         Gambar 2 gum arab.

Perbesaran : 10x 10                                            Perbesaran : 10x 10

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3 margarin

Perbesaran : 10 x 10

Tabel 5 Pengendapan koloid dengan garam

No

Larutan

Jenis koloid

Hasil

Pengamatan

1

Gelatin

Liofil

+

Endapan setelah di tambah MgSO 21sendok

2

Pati

Liofil

++

Endapan tanpa di tambah MgSO

3

Biru berlin

Liofob

+++

Endapan

4

Ferihidroksida

Liofob

+++

Endapan

Keterangan :

+++     : terbentuk endapan cepat

++        : tebentuk endapan lambat

+          : terbentuk endapan dengan bantuan MgSO

Tabel 6 Sifat larutan koloid

No

Jenis koloid

Sifat

            Keterangan

1

Biru berlin

Non polar

Tidak berdifusi

2

Eosin

Polar

Difusi

3

Giemsa

Polar

Difusi

4

CuSO

Polar

Difusi

 

Tabel 7 pH dan larutan penyangga (Wolepole)

No

Volume

 As. Asetat

Volume

 Natrium asetat

pH

Kapasitas buffer

1

23,25 ml

1,875 ml

3

0,77

2

20,5 ml

4,5 ml

4

0,86

3

15,75 ml

9,25 ml

4

0,95

4

10 ml

15 ml

5

1,03

5

5,25 ml

19,75  ml

6

1,12

Contoh perhitungan :

Diket   : Ka CH3COOH                      = 1,76 x 10-5

pKa                                       = – log Ka        =  5 – log 1,76 = 4,754

Ditanya : kapasitas buffer?

Jawab :

Mol asam         = 23,25 ml x 0,1 mmol/ml

= 2,325 mmol

Mol garam       = 1,875 ml x 0,1 mmol/ml

= 0,1875 mmol

[H+]     =  Ka x

= 1,76 x 10 x

= 2,18 x 10

pH       = – log [H+]

= 4 – log 2,18

= 3,66

Kapasitas buffer          =

=

= 0,77

Tabel 8 pH dan larutan penyangga (Sorrensen)

No

Volume NaHPO

Volume KHPO

pH

Kapasitas buffer

1

1,25 ml

23,75 ml

6

1,17

2

3 ml

22 ml

6

1.12

3

6,625 ml

18,375 ml

6

1,06

4

12,5 ml

12,5 ml

7

1,00

5

17,875 ml

7,125 ml

7

0,9

 

Contoh perhitungan :

Diket   : Ka NaHPO          = 6,20 x 10-8

pKa                           = – log Ka        =  8 – log 6,20 = 7,20

Ditanya : kapasitas buffer?

 

Jawab :

Mol asam         =  1,25 ml x  mol/ml

= 0,083 mmol

Mol garam       = 23,75 ml x  mol/ml

= 1,583 mmol

[H+]     =  Ka x

=  6,20 x 10-8 x

= 3,25 x 10

pH       = – log [H+]

= 9 – log 3,25

= 8,48

Kapasitas buffer          =

=

=  1,17

Tabel 9 Tekanan Osmosis sel darah

No

Jenis larutan

Endapan

           Sifat larutan

1

NaCl 0,3 %

+

Hipotonik

2

NaCl 0,9%

++

Isotonik

3

NaCl 5 %

+++

Hipertonik

 

Keterangan :

+          : sedikit endapan

++        : endapan sedang

+++     : endapan jelas terlihat (banyak)

 

 

 

Gambar sel darah dalam larutan berbagai konsentrasi :

 

                                                                                               

                                               

                                               

 

 

Gambar 4  NaCl 0,3 %.                                               Gambar 5  NaCl 0,9 %.

Perbesaran : 10x 10                                                    Perbesaran : 10x 10

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6 NaCl 5 %.

Perbesaran : 10 x 10

 

Pembahasan

Bobot jenis suatu larutan berbeda-beda, tergantung pada macam pelarut dan banyaknya zat yang terlarut di dalamnya. Mengukur bobot jenis dapat menggunakan hidrometer, alat ini berupa tabung kaca berskala dengan bagian bawahnya diberi pemberat. Cara menggunakan alat ini yaitu dengan cara memasukkannya dalam zat cair yang akan diuji. Pada percobaan ini suhu alat yang digunakan adalah 20C, maka harus dilakukan koreksi untuk memperkecil kesalahan.

Dari hasil pengamatan bobot jenis, bobot yang paling besar adalah NaCl 5% dan yang paling kecil adalah akuades. Jika  di bandingkan NaCl 3% dan NaCl 5 % mengapa bobot jenis yang paling besar adalah NaCl 5 %, karena semakin besar konsentrasi senyawa suatu larutan, maka semakin besar pula berat jenis larutan tersebut, ini sesuai dengan teori yang ada. Selain itu jika akuades dan air kelapa dibandingkan bobotnya tidak sebesar NaCl karena akuades mengandung zat-zat terlarut. Pada percobaan ini tedapat kesalahan karena bobot jenis dari air sumur dan air sungai menunjukan angka di atas 1,000 g/ml, padahal rentang skala hidrometer antara 1,000-1,060 g/ml, kemungkinan air sumur dan air sungai sudah terkontaminasi dengan zat lain sehingga bobot jenisnya  tidak dapat terdeteksi. Selain mengukur larutan-larutan tersebut, urin manusiapun diukur menggunakan urinometer. Prinsip kerja alat ini sama dengan hidrometer. Setelah melakukan percobaan, bobot urin yang didapat adalah 1,0033, sedangkan menurut literatur urin yang sehat berkisar antara 1,010 – 1,030 (Ganong, 2001). Kemungkinan hal ini terjadi karena probandus sedang berpuasa, jadi kandungan air dalam urin berkurang.

Adanya tegangan permukaan karena terdapat interaksi antar molekul larutan sehingga memberikan daya tolak untuk mempertahankan luas permukaan. Pada percobaan jumlah tetesan, tetesan yang paling banyak adalah pada minyak tanah, alkohol dan air sabun. Hal ini terjadi karena tegangan permukaan zat cair tersebut rendah sehingga jumlah tetesan yang dihasilkan tinggi. Sedangkan pada akuades dan NaCl 20% jumlah tetesan tidak terlalu banyak ini disebabkan tegangan permukaan pada akuades dan NaCl tinggi sehingga daya tolak untuk mempertahankan luas permukaan tinggi jadi jumlah tetesan yang dihasilkan larutan ini rendah, selain itu disebabkan molekul-molekul yang terdapat pada air dan NaCl berinteraksi lebih kuat yang mengakibatkan tiap tetes yang dihasilkan lebih besar, jadi jumlah tetesnya rendah. Walaupun alkohol memiliki ikatan hidrogen, namun alkohol adalah cairan yang mudah menguap, sehinggagayaantar molekulnya lemah, sedangkan sabun adalah cairan yang menurunkan tegangan permukaan zat cair. Data ini menunjukan, bahwa semakin besar tegangan permukaan suatu larutan maka semakin kuat permukaan larutan memberikangayatolak atas bagi benda yang ada di atasnya. Ini terbukti pada jarum yang diletakkan pada gelas arloji yang kemudian diberi cairan akuades, air sungai dan air kelapa yang terlihat mengapung. Sedangkan jika cairan di ganti dengan cairan empedu dan air sabun jarum yang ada pada gelas arloji akan tenggelam, karena kedua cairan ini mengandung zat emulgator yang berfungsi menurunkan tegangan permukan zat cair, namun pada percobaan cairan empedu terapung dan hanya pada air sabun yang terapung, kemungkinan terjadi karena saat pencucian gelas arloji kurang bersih sehingga ada kemungkinan cairan empedu tercampur dengan larutan lain.

Emulsi merupakan sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain yang tidak saling melarutkan. Air dan minyak selamanya tidak akan bisa menyatu. Jika kita hendak mencampurkan keduanya, maka dalam sekejap keduanya akan memisah kembali. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan tingkat polaritas di antara dua zat tersebut. Air merupakan molekul yang memiliki gugus polar. Sedangkan minyak merupakan zat yang memiliki gugus non polar. Perbedaan ini menyebabkan keduanya tidak bisa menyatu, karena gugus polar hanya bisa bersatu dengan gugus polar, sedangkan gugus non polar hanya bisa bersatu dengan gugus non polar. Minyak kelapa dan air merupakan emulsi yang tidak stabil, namun ketika campuran tersebut dikocok akan menjadi stabil beberapa saat. Pada emulsi ini minyak kelapa dengan air, yang menjadi media pendispersinya adalah minyak kelapa, sedangkan air sebagai zat terdispersi. Ketikan ditambah sudanmerah, sudanmerah tercampur dengan minyak, sedangkan air tidak bias menyatu karena kepolarannya berbeda. Sudanmerah berfungsi sebagai zat warna agar dapat membedakan cairan minyak dengan air dan dapat menarik air. Emulsi diatas dinamakan emulsi tipe W/O, karena air terdispersi dalam minyak (Ansel, 1989). Sedangkan pada emulsi minyak kelapa dengan air sabun membentuk emulsi yang lebih stabil Emulsi ini disebut emulsi O/W ( minyak dalam air). Hal ini karena air sabun yang sebagai zat amfipatik yang memiliki stuktur dua gugus yaitu hidofobik pada bagian ekor yang bersifat non-polar dan hidrofilik pada bagian kepalanya yang bersifat polar. Sehingga bagian non-polar akan bergabung dengan minyak yang kemudian bersama-sama bergabung dengan air (Fessenden, 1986). Pada emulsi minyak kelapa dengan gum arab adalah emulsi yang lebih stabil jika dibandingkan dengan kedua emulsi diatas, karena gum arab berfungsi sebagai mengurangi tekanan permukaan (surface tension) air dan stabilizer (emulsifier), zat yang dapat menstabilkan emulsi. Jika dilihat di bawah mikroskop, molekul gum arab terdispersi merata dalam media minyak.

Susu disebut juga sebagai emulsi alamiah, fase terdispersi dari susu adalah asam lemak dan media pendispersinya adalah air. Jadi tergolong emulsi O/W (minyak dalam air). Dalam susu terdapat zat penstabil emulsi yang berupa protein kasein. Jika mengalami denaturasi maka emulsi ini akan terlihat tidak stabil, dapat dibedakan minyak dan airnya, keadaan ini yang disebut dengan susu pecah. Contoh lain dari emulsi alamiah adalah santan dan lateks. Di samping emulsi alamiah terdapat pula emulsi industri. Contoh dari emulsi industri yaitu margarin, dan minyak bumi. Fase terdispersi pada margarin adalah air dan media pendispersinya adalah minyak, sehingga dinamakan tipe emulsi W/O.

Percobaan pengendapan koloid liofob dengan garamnya menggunakan larutan Biru berlin dan Ferihidroksida dengan hasil terbentuk endapan dengan cepat hal ini karena sifat liofob yang takut air, selain itu sifat larutan koloid liofob yang mudah menggumpal jika ditambah elektroloit dengan penambahan garam yang berfungsi menarik air maka larutan ini cepat mengendap. Sementara  pada larutan liofil yang memiliki sifat tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit sehingga, pada larutan gelatin harus ditambahkan MgSO agar jenuh dan mengendap.

Hasil pengamatan difusi melalui gel pada beberapa larutan menunjukan, koloid biru berlin tidak berdifusi, sedangkan pada eosin yang berwarna merah, CuSO, dan larutan giemsa, berdifusi dengan gel yang ada pada tabung reaksi. Biru berlin merupakan senyawa sintesis tertua, biru berlin sangat larut, tapi cenderung untuk membentuk koloid sehingga tak mampu untuk berdifusi dengan gel gelatin yang bersifat polar.

Suatu larutan yang mengandung suatu asam lemah plus suatu garam dari asam itu, atau suatu basa lemah plus garam dari basa itu, mempunyai kemampuan bereaksi baik dengan asam kuat maupun basa kuat. Sistem larutan ini di sebut Larutan buffer (larutan penyangga) yang jika ditambahkan sedikit asam atau sedikit basa tidak akan merubah pH. Hasil percobaan membuktikan pada buffer standar fosfat, pH tidak berubah jauh. Namun pada buffer standar Asetat sedikit berbeda kartena perbandingan volume yang terlalu berbeda jauh, sehingga perbedaan pH sedikit terlihat.

Osmosis adalah aliran suatu pelarut dari suatu larutan dengan konsentrasi rendah ke larutan dengan konsentrasi tinggi, lewat suatu membran semipermeabel (Keenan, 1980). Jadi tekanan osmotik adalah tekanan tambahan yang harus diberikan pada permukaan larutan untuk mencegah osmosis. Jika di lihat kepekatan larutan NaCl jika di urutkan dari yang paling encer ke yang paling pekat yaitu NaCl 0,3%, NaCl 0,9%, dan NaCl 5%, sehingga endapan yang jelas terlihat pada larutan NaCl 5%. Contoh osmosis yang terdapat dalam tubuh makhluk hidup adalah sel darah merah. Dinding sel darah merah memiliki ketebalan kira-kira 10 nm danporidengan diameter 0,8 nm. Molekul air berukuran kurang dari setengah diameter tersebut sehingga dapat lewat dengan mudah. Cairan dalam sel darah merah mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan larutan NaCl 0,9 % yang disebut juga dengan larutan fisiologis. Dengan kata lain, cairan sel darah merah isotonik dengan larutan NaCl 0,9%. Jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,9 %, tidak akan ada aliran bersih air melalui dinding sel. Akan tetapi, jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,9%, contonya NaCl 5%, maka air akan keluar dari dalam sel dan sel akan mengkerut. Larutan yang demikian dikatakan hipertonik. Sebaliknya, jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan yang lebih encer dari NaCl 0,9% contohnya NaCl 0,3% maka air akan masuk ke dalam sel dan sel akan menggembung. Larutan itu dikatakan hipotonik. Plasmolisis merupakan peristiwa lepasnya membran plasma dari dinding sel, akibatnya membran plasma akan terlepas dari dinding sel. Sementara plasmoptosis adalah peristiwa masuknya zat cair ke dalam sel sehingga sel akan mengembang.

 

Simpulan

            Bobot jenis larutan dapat dihitung menggunakan hidrometer. Hasil pengukuran bobot jenis yang terkecil adalah akuades yaitu 1,003 g/ml, sedangkan yang terbesar adalah NaCl 5% yaitu 1,034 g/ml. Pada penentuan tegangan permukaan, diperoleh bahwa yang memiliki tegangan permukaan tinggi adalah akuades dan NaCl 20%, sedangkan yang tegangan permukaannya rendah adalah alkohol,minyak tanah, dan air sabun. Emulsi yang paling tidak stabil adalah emulsi minyak kelapa dengan air dengan tipe emulsi W/O. emulsi minyak dan air sabun merupakan emulsi O/W, minyak dengan gum arab W/O,  sedangkan susu merupakan emulsi O/W. Proses pengendapan koloid dengan garamnya yang terbentuk endapan lebih cepat adalah koloid liofob dibanding liofil. Larutan buffer menyangga pH jika terjadi sedikit penambahan asam atau basa. Sel darah merah isotonik dengan larutan NaCl 0,9%. Jika sel darah dimasukan ke larutan yang lebih encer akan mengalami hipotonik, sedangkan jika dimasukan ke dalam larutan yang lebih pekat akan mengalami hipertonik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s