SUBKULTUR NENAS BANGKA

Standard

Pendahuluan

Nanas merupakan buah yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Nilai ekonomi yang tinggi ini tidak terlepas dari manfaat nanas yang cukup beragam. Bagi kesehatan tubuh, nanas dapat digunakan dalam penyembuhan penyakit seperti sembelit dan gangguan saluran kencing. Penyakit kulit seperti gatal-gatal dan kudis pun dapat diobati dengan diolesi sari buah nanas. Selain itu setiap 100 gram nanas dapat memenuhi 24% kebutuhan vitamin C sehari. Vitamin A yang terkandung dalam 100 gram nanas juga cukup tinggi yaitu sekitar 10  – 39% kebutuhan vitamin A sehari (Prahasta 2009).

Potensi ekonomi yang begitu besar membutuhkan bibit bermutu dalam jumlah besar. Teknik perbanyakan yang dilakukan saat ini masih banyak bersifat tradisional yaitu dengan perbanyakan secara vegetatif. Perbanyakan dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman yang tumbuh secara alami membutuhkan waktu lama, jumlah bibit yang dihasilkan sedikit dan tidak seragam. Kebutuhan bibit nanas yang cukup tinggi membutuhkan upaya perbanyakan yang mampu menghasilkan bibit dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat. Keseragaman bibit juga sangat penting karena dapat menentukan hasil produksi. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan salah satu solusi yang dilakukan (Yusnita 2003).

Perbanyakan melalui kultur jaringan dapat dibantu dengan menambahkan zat pengatur tumbuh pada media tanam. Zat pengatur tumbuh yang berperan biasanya auksin dan sitokinin. Auksin terlibat dalam banyak proses fisiologi dalam tumbuhan antara lain perpanjangan sel, fototropisme, geotropisme, dominasi apikal (Abidin 1993). Sitokinin mempunyai peranan dalam pembelahan sel dan perkembangbiakan tunas aksilar. Sedangkan kombinasi auksin dan sitokinin biasa digunakan karena dapat meningkatkan laju multiplikasi (Kyte 1990).

Subkultur merupakan pemindahan eksplan ke media lain baik media yang sama maupun media yang berbeda. Eksplan tersebut merupakan tanaman yang sudah lengkap, seperti telah mempunyai akar, batang, dan bagian lainnya, yang akan dituang/ditanam di media kultur.  Praktikum kali ini melakukan subkultur dengan eksplannya adalah  Nenas  (Ananas comusus).

Tujuan

Melakukan multiplikasi tunas nenas bangka dan pengakaran nenas bangka.

 

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah laminar, pinset, pisau, botol steril, bunsen, silk, tissue, cawan petri, plastik, dan karet. Sedangkan bahan yang digunakan adalah planlet nenas bangka, alkohol 96%, alkohol 70%, media MS yang ditambahkan BAP 1 ppm, media MS yang ditambahkan NAA 1 ppm.

Pembahasan

Eksplan yang digunakan dalam praktikum ini adalah nanas bangka. Pertama kali yang dilakukan saat penanaman ke media baru yaitu memotong nanas pada bagian kalusnya dan setelah itu masing-masing eksplan ditanamkan pada media BAP dan NAA sebanyak dua eksplan. Pada praktikum ini, nanas dikulturkan secara konvensional yaitu secara proliferasi in vitro. Media NAA berfungsi untuk menginisiasi akar tanaman nanas sedangkan media BAP untuk menginisisasi tunas pada tanaman nanas.

Penggunaan BAP dalam medium MS sangat penting untuk regenerasi tanaman dari apeks pucuk nanas dan membidik tanaman bebas dari Fusarium. Selain itu BAP dikatakan sebagai sitokinin terbaik untuk perbanyakan bagian tanaman udara dan untuk induksi tunas adventif. NAA merupakan salah satu jenis auksin yang mempunyai sifat kimia lebih stabil dibanding IAA dan tidak mudah teroksidasi oleh enzim (Zaer dan Mapes 1985). Interaksi BAP dan NAA yang  sangat nyata menunjukkan bahwa perlakuan sitokinin (BAP) tidak dapat dilepaskan dari pengaruh auksin (NAA), sehingga dalam penggunaan sitokinin, baik efek mendorong maupun menghambat proses pembelahan sel tergantung dari adanya fitohormon lainnya, terutama auksin (Almeida et al. 2000).

Berdasarkan hasil pengamatan, pertumbuhan nanas yang ditanamkan pada media BAP dan NAA sebagian besar berhasil. Pada media BAP sudah terlihat pertambahan daun yang semakin banyak dari jumlah sebelum ditanam pada media. Hal ini menunjukkan bahwa BAP telah berhasil memicu pertumbuhan dan piliferasi tunas. Sedangkan pada media NAA masih menunggu untuk pertumbuhan pertumbuhan akar tetapi telah muncul kalus pada nanas yang ditanam. Sedangkan pada sebagian kecil yang tidak berhasil dikarenakan nanas tersebut terkontaminasi dengan bakteri sehingga harus segera dibersihkan agar tidak mengkontaminasi nanas lainnya. Faktor ketidakberhasilan antara lain karena kurang aseptik ketika sedang mengkulturkan tanaman.

Laju pertumbuhan sel, jaringan, organ tanaman dalam kultur akan menurun setelah periode tertentu yang disebabkan oleh menyusutnya kadar nutrien pada media dan senyawa racun yang terbentuk dan dilepaskan oleh eksplan disekitar media. Subkultur merupakan suatu proses pemindahan sel, jaringan, atau organ ke dalam media baru. Hal ini dilakukan agar laju pertumbuhan sel tetap konstan dan untuk diferensiasi kalus. Media yang digunakan untuk subkultur dapat sama atau berbeda dengan media yang digunakan sebelumnya (Yuliarti 2010).

 

Simpulan

Pertumbuhan nanas yang ditanamkan pada media BAP dan NAA sebagian besar berhasil. Pada media BAP sudah terlihat pertambahan daun yang semakin banyak dari jumlah sebelum ditanam pada media, pada media NAA masih menunggu untuk pertumbuhan pertumbuhan akar tetapi telah muncul kalus. Sebagian yang terkena kontaminasi disebabkan oleh bakteri dan cendawan labgsug dicuci agar tidak mengganggu pertumbuhan eksplan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s