UJI BIOLOGI 2,4-D

Standard

Tujuan

 

Menentukan konsentrasi efektif 2,4-D sebagai herbisida dengan menggunakan kurva respon tumbuh akar terhadap logaritma konsentrasi 2,4-D.

 

Pendahuluan

 

Hormon yang berarti menggiatkan pada khususnya dibentuk disuatu tempat, akan tetapi menunaikan fungsinya di tempat lain. Hormon tumbuhan adalah senyawa organik yang disintetis di salah satu bagian tumbuhan dan dipindahkan kebagian lain, dan pada konsenterasi yang sangat rendah mampu menimbulkan respons fisiologis. Respons pada organ sasara tidak selalu bersifat mamacu, karena proses seperti pertumbuhan dan diferensiasi kadang malahan terhambat oleh hormone, terutama oleh asam absisat (Miftahudin 2010). Pada tumbuhan dikenal fitohormon yaitu sekumpulan zat-zat yang membantu pertumbuhan. Zat penumbuh tersebut antara lain, auksin, hetero-auksin, asam indol asetat, kinin, giberalin, hidrazida malat, asam traumatat dan vitamin (Dwidjoseputro 1980).

Auksin berfungsi untuk meregulasi banyak proses fisiologis seperti pembelahan sel, inisiasi akar, dominasi apikal, senesens daun, absisi daun, pembungaan, dan lain sebagainya(Davies 1995). Auksin terdiri dari dua kelompok, yaitu auksin alami, dan auksin sintetik. Contoh auksin alami adalah indol acetic acid (IAA) dan 2-phenylacetic acid (PAA). Sedangkan auksin sintetik antara lain indol-3-butire acid (IBA), 2.4-dichlorophenoxy acetic acid (2.4-D) dan α-Naphtalene acetic acid (α-NAA).

Auksin yang lemah dalam zat pengatur tumbuh dapat dikonversi menjadi auksin kuat dari aksi enzim tumbuhan pada komposisi nutrisinya. Auksin sintetik 2.4-D akan membahayakan tumbuhan yang mampu melakukan proses β-oksidasi, karena jika tumbuhan melakukan proses β-oksidasi, saat atom karbon pemula genap, auksi 2.4-D akan diubah menjadi senyawa asam phenilasetat, jika jumlah atom karnon ganjil, hasil oksidasi akan berupa senyawa fenol yang dapat mengaktifkan atau menghambat pertumbuhan tanaman. Fenomena ini digunakan untuk memanfaatkan beberapa senyawa auksin sebagai herbisida pada bidang pertanian (Galston 1970).

Transpor IAA dalam sel tampaknya diatur oleh pH. Karena IAA tidak menembus membran tanpa bantuan, sementara IAA dengan mudah berdifusi menembus membran, auksin cenderung terakumulasi dalam ruang sel yang lebih alkalin. Ekitas sepertiga IAA ditemukan dalam kloroplas, dan sisanya dalam sitosol. Aplikasi dari auksin 2.4-D adalah melindungi dan meningkatkan hasil panen, mengontrol dan mengurangi gulma tana merusak tanaman yang dibudidayakan. Auksi 2.4-D digunakan sebagai herbisida karena termasuk produk yang tidak mahal, dan dalam konsentrasi penghambatannya sebagai herbisida tidak berbahaya bagi manusia dan hewan lainya, dan efek residunya cepat hilang. Beberapa orang berpendapat 2.4 – D memiliki efek selektif yaitu membunuh dikotil berdaun lebar dan tidak berbahaya bagi monokotil.

 

Hasil Pengamatan

 

Tabel 1 Data panjang akar dengan berbagai perlakuan konsentrasi 2.4 D

Konsenterasi 2.4 D (mg/L)

Data panjang akar (cm)

Rata-rata panjang akar (cm)

Simpangan baku (S)

Galat Baku (SD)

0

11.4

11.03

0.55

0.74

11.3

10.4

0.001

12

11.97

0.65

0.80

12.6

11.3

0.01

9.8

8.3

1.55

1.24

6.7

8.5

0.1

3.5

3.26

0.20

0.45

3.1

3.2

1

1.1

1.13

0.05

0.22

1.1

1.2

10.0

0.107

0.107

0.10

0.32

Tidak diketahui

0.953

0.953

0.79

0.89

 

Perhitungan :

  • Konsenterasi 2,4 D = 0 mg/L

Cara manual

 

Simpangan Baku2        =

= 0.30

Simpangan Baku         = 0.55

 

Galat Baku                  =

=

= 0.74

Cara kalkulator

Simpangan Baku

Shift – Mode – Reset All(=)

Mode – Reg (3) – Lin(1) – 11.4 – M+ – 11.3 – M+ – 10.4 –M+ – Shift – S-Var(2) – n-1 (3) – 0.55

Galat Baku                  =

= 0.74

 

Grafik 1 Hubungan antara Logaritma Konsenterasi dengan Rata-rata Panjang Akar .

 

 

Pembahasan

 

Auksin merupakan zat pengatur tumbuh yang memiliki banyak ragam, mulai dari keaktifannya, bentuk molekulnya dan asal pembentuknnya. Auksin berdasarkan asal pembentukan ada yang berasal dari tumbuhan atau disebut juga sebagai auksin alami, dan ada auksin yang dibuat manusia ataun auksin sintetis. Pengamatan ini menggunakan 2.4-D (2.4-dichlorophenoxyacetic acid). Senyawa ini merupakan senyawa dengan keaktifan tinggi. Pada tanaman yang mampu melakukaan reaksi reaksi β-oksidatif akan mengalami keracunan karena tanaman tersebut mampu mengoksidasi butirat menjadi derivate asetat atau fenol. Fenol bersifat mengahambat atau menonaktifkan tumbuhan. Sifat dari zat pengatur tumbuh ini menjadikannya herbisida yang efektif dan spesifik hanya pada tanamaan tertentu.

Biji mentimun (Cucumis sativus) yang diberi konsetrasi 2.4-D yang berbeda menghasilkan pertumbuhan akar yang berbeda-beda juga. Bji mentimun yang tidak diberikan 2.4-D pada hari pengamatan panjang akar tanamannya adalah 11.03cm.  Pada konsentasi 0.001 mg/L panjang rata-rata akar sebesar 11.97 cm. Hal ini menandakan bahwa pemberian 2.4D dalam jumlah sedikit akan memacu pemanjangan akar suatu tanaman. Panjang akar tanaman pada konsentrasi 2.4-d sebesar 0.01 mg/L, 0.1 mg/L, 1 mg/L, dan 10 mg/L berturut-turut adalah 8.3cm, 3.26cm, 1.13cm, dan  0.107 cm. Dari hasil ini terlihat bahwa peningkatan konsentrasi 2.4-D mempengaruhi penurunan panjang rata-rata akar. Konsentrasi 2.4-D yang tinggi terbukti menghambat pertumbuhan tanaman mentimun (Cucumis sativus). Selain menjadi senyawa beracun, 2.4-D diduga menghambat pertumbuhan tanaman melalui perubahan jumlah kromosom dalam sel.

Penggunaan zat pengatur tumbuh dalam induksi embrio somatik, seperti 2.4-D dalam konsentrasi tinggi, kemungkinan dapat menghambat terbentuknya benang gelondong selama proses mitosis, menyebabkan benang gelondong berbentuk tidak normal atau selama proses pembelaha sel, sel yang seha            rusnya memasuki proses tahapan istirahat sementara tiba-tiba memasuki pembelahan sel berikutnya sebelum inti sempat bermitosis.

Penghitungan panjang akar mentimun dilakukan dengan tiga kali ulangan. Dengan menghitung rata-rata tiap perlakuan yang kemudian dilakukan perhitungan menggunakan simpangan baku. Simpangan baku merupakan besarnya simpangan dari data-data yang tersedia. Simpangan baku terkecil menunjukkan data yang terkumpul merupakan data yang paling baik dan bisa dipercaya. Hasil perhitungan simpangan baku pada pengamatan ini masih terbilang kecil dan menandakan data yang diperoleh baik dan dapat dipercaya.

 

 

Kesimpulan

 

Senyawa 2,4-D merupakan auksin sintetik yang mampu bekerja sebagai herbisida pada kondisi tertentu. Konsentrasi penghambatan minimal pada tanaman mentimun (Cucumis sativus) oleh 2.4-D adalah 0.1 mg/L, karena mulai dari konsenterasi tersebut pertumbuhan akar mulai terhambat atau mengalami penurunan. Semakin tinggi konsentrasi 2.4-D yang digunakan semakin rendah pertumbuhan suatu tanaman. Hasil perhitungan simpangan baku pada pengamatan ini masih terbilang kecil dan menandakan data yang diperoleh baik dan dapat dipercaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s