VITAMIN

Standard

Pendahuluan

Vitamin adalah sekelompok senyawa organik kompleks yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil untuk pemeliharaan kesehatan. Vitamin dapat dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak contohnya adalah vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K yang dapat disimpan dalam tubuh tepatnya di hati. Sedangkan vitamin yang larut dalam air contohnya adalah vitamin C, dan vitamin B. Karena larut dalam air maka vitamin ini tidak disimpan dalam tubuh, jika berlebihan akan dikeluarkan melalui urin (Gaman 1992).

Vitamin C atau asam askorbat berwarna putih, membentuk kristal dan sangat larut dalam air. Vitamin C berfungsi untuk pembentukan semua jaringan tubuh terutama untuk pembentukan jaringan ikat, dan membantu absorbsi zat besi dalam usus halus. Karena vitamin C tidak disimpan dalam tubuh maka dibutuhkan asupan yang teratur. Jumlah vitamin C yang dibutuhkan tubuh adalah 1000 mg perharinya, jumlah tersebut sudah cukup untuk mengcegah scurvy dan dosis ini dapat diperoleh dengan menelan tablet asam askorbat (Gaman 1992).

Vitamin C dapat berbentuk sebagai asam L-askorbat dan asam L-dehidroaskorbat. Asam aaskorbat sangat mudah teroksidasi secara reversibel menjadi asam L-dehidroaskorbat (Ronald 2008). Sumber vitamin C sebagian besar berasal dari sayuran dan buah-buahan, terutama buah-buahan segar. Buah masih mentah lebih banyak kandungan vitamin C-nya, semakin tua buah semakin berkurang  kandungan vitamin C-nya. Vitamin C mudah larut dalam air dan mudah rusak oleh oksidasi, panas, dan alkali. Karena itu agar vitamin C tidak banyak hilang, sebaiknya pengirisan dan penghancuran yang berlebihan harus dihindari (Budiyanto 2002).

Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh, sebagai koenzim atau kofaktor. Asam askorbat adalah bahan yang kuat  kemampan reduksinya dan bertindak sebagai antioksidan dalam raksi-reaksi hidroksilasi. Beberapa turunan vitamin C (seperti asam eritrobik dan askorbik palmitat) digunakan sebagai antioksidan di dalam industry pangan untuk mencegah proses menjadi tengik, perubahan warna pada buah-buahan dan untuk mengawetkan daging. Fungsi vitamin C salah satunya untuk mencegah infeksi dengan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Selain itu vitamin C dapat  mencegah kanker serta penyakit jantung yang berkaitan dengan peranan vitamin sebagai antioksidan yang mempengaruhi pembentukan sel kanker (Almatsier 2006) .

Tujuan

            Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar vitamin C dalam tablet dan  vitamin C  sari buah.

 

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan antara lain pipet mohr, bulp, tabung erlenmeyer, pipet tetes, alat titrasi, batang pengaduk, dan corong.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi tablet vitamin C, sari buah, larutan tiosulfat 0.1 N, larutan pati, larutan iodin 0.1 N, akuades, dan larutan asam sulfat 2 N.

 

Prosedur percobaan

Blanko dibuat dengan cara 20 mL akuades dicampurkan 15 mL larutan iodin 0.1 N dan 5 mL H2SO4 2N dalam labu erlenmeyer. Campuran kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan tiosulfat 0.1 N sampai larutan berubah warna dari cokelat menjadi kekuningan. Sebanyak 4 tetes larutan pati kemudian ditambahkan ke dalamnya dan titrasi dilanjutkan kembali sampai larutan menjadi tak berwarna.

Penentuan kadar vitamin C dalam tablet. Tablet vitamin C yang telah digerus halus dilarutkan dengan akuades sebanyak 20 mL di dalam erlenmeyer. Sebanyak 5 mL asam sulfat 2 N dan sebanyak 15 ml iodin 0.1 N ditambahkan ke campuran tersebut. Campuran kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan tiosulfat 0.1 N sampai larutan berubah warna. Volume tiosulfat dicatat dengan teliti.

Penentuan kadar vitamin C dalam sari buah. Sari buah dipipet sebanyak 25 mL dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. Sebanyak 15 mL larutan iodin 0.1 N ditambahkan ke dalamnya. Campuran kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan tiosulfat 0.1 N sampai terjadi perubahan warna dari cokelat menjadi kekuningan. Sebanyak 4 testes larutan pati ditambahkan ke dalam campuran dan titrasi dilanjutkan sampai terjadi perubahan warna larutan menjadi tidak berwarna seperti blanko. Volume tiosulfat yang terpakai dicatat dengan teliti.

Pembahasan

Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam. Vitamin C dapat ditemukan pada sayur dan buah-buahan. Kelebihan vitamin C akan dikeluarkan melalui urine, sedangkan kekurangan vitamin ini akan menyebabkan penyakit sariawan atau askorbut dengan gejala pendarahan disekitar gusi, gigi, usus, menurunnya jumlah sel darah merah dan kerusakan sumsum.

Penentuan kadar vitamin C dalam tablet atau dalam sari buah dapat ditentukan melalui titrasi. Jenis titrasi yang digunakan termasuk dalam titrasi iodometri. Titrasi iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana oksidator yang dianalisis kemudian direaksikan dengan ion Iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantatif dan dititrasi dengan larutan standar atau asam. Titrasi Iodometri ini termasuk golongan titrasi redoks yang mengacu pada transfer elektron. Titrasi iodometri dapat dibedakan menjadi titrasi langsung dan titrasi tidak langsung. Titrasi langsung merupakan titrasi yang menggunakan alat sebagai titrat atau titran. Sementara itu pada titrasi tak langsung, alat tidak langsung terlibat dalam tahap titrasi (Harjadi 1986).

Dalam penentuan kadar vitamin C, titrasi iodometri yang digunakan ialah titrasi iodometri langsung dengan menggunakan tiosulfat sebagai titran, yang berdasarkan reaksi redoks antara iodin dengan larutan tiosulfat. Kestabilan larutan tiosulfat mudah dipengaruhi oleh pH rendah, sinar matahari, serta bakteri yang dapat memanfaatkan sulfur sebagai sumber energi. Selain itu, kestabilan larutan ini juga dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan.

Sebenarnya, titrasi ini dapat dilakukan tanpa indikator karena warna iodin yang ditritasi akan lenyap bila titik akhir tercapai. Warna yang terjadi ialah coklat tua menjadi lebih muda, lalu kuning, kuning muda, sampai warna benar-benar lenyap. Namun untuk lebih mudahnya, ditambahkan amilum sebagai indikator. Amilum dapat membentuk kompleks berwarna biru tua bila bereaksi dengan iodin. Penambahan amilum dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi yaitu saat warna menjadi kekuningan. Larutan H2SO4  berperan dalam penentuan kadar vitamin C. Reaksi kimia yang terjadi saat titrasi berlangsung lambat dalam larutan netral tetapi lebih cepat dalam larutan berasam. Oleh karena itu, H2SO4 sebagai katalisator yang mempercepat berlangsungnya reaksi kimia tetapi tidak ad pada hasil akhir reaksi.

Berdasarkan data hasil percobaan dapat diketahui bahwa kadar vitamin C dalam tablet sebesar 8.484 mg dan kadar vitamin C dalam sari buah sebesar 72.72 % (b/v). Penurunan konsentrasi ini disebabkan oleh adanya pengenceran beberapa kali sebelum sari buah digunakan. Penambahan amilum pada larutan vitamin C dari tablet tidak perlu dilakukan karena pada tablet vitamin C sudah mengandung pati. Sementara untuk titrasi vitamin C dalam sari buah menggunakan pati.

Kadar vitamin C dalam tablet atau dalam sari buah sebenarnya tidak dapat dibandingkan. Kadar vitamin C dalam tablet adalah buatan manusia sehigga dapat disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Sedangkan kadar vitamin C dalam sari buah tergantung habitat dan nutrisi yang diberikan untuk pertumbuhannya. Jika habitanya mendukung serta asupan nutrisi untuk perkembangan buah tersebut baik, maka kadar vitamin C tersebut akan tinggi. Vitamin C mudah larut dalam air dan mudah rusak oleh oksidasi, panas, dan alkali. Karena itu agar vitamin C tidak banyak hilang, sebaiknya pengirisan dan penghancuran yang berlebihan harus dihindari.  

Hasil yang didapat tidak terlepas oleh adanya berbagai kesalahan yang mungkin terjadi. Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi antara lain kurang akurat yang dipengaruhi oleh adanya kesalahan oksigen. Adanya oksigen di udara dapat menyebabkan hasil titrasi terlalu tinggi karena dapat mengoksidasi ion iodida menjadi iodin. Selain itu, pH tinggi dapat menyebabkan bereaksinya iodin dengan air sehingga menyebabkan penggunaan larutan tiosulfat menjadi menurun.

Kesalahan lain yang terjadi saat praktikum adalah kurang teliti dalam pembacaan buret, sehingga mempengaruhi volume terpakai untuk mentitrasi tersebut. Selain itu blanko yang harusnya menjadi patokan warna tak dapat menjadi pembanding untuk kedua sampel yang digunakan karena hasilnya berlainan. Ataupun pemberian amilum yang terlalu awal juga dapat mempengaruhi hasil secara signifikan.

 

Simpulan

Titrasi vitamin C menggunakan metode iodometri untuk menentukan kadar vitamin C. Kadar vitamin C dalam tablet sebesar 8.484 mg dan kadar vitamin C dalam sari buah sebesar 72.72 % (b/v). Kadar vitamin C dalam sari buah dipengaruhi oleh nutrisi yang diberikan pada buah dan lingkungan yang mendukung. Terdapat kesalahan dalam membaca buret untuk pengukuran kadar vitamin C dalam tablet, sehingga data yang didapat kurang tepat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s