ANALISIS KERAGAMAN JENIS PAKAN MONYET EKOR PANJANG PRIMATA (Macaca fascicularis) DI TAMAN WISATA ALAM PANGANDARAN : STUDI ANATOMI KANDUNGAN FESES

Studi keragaman sumber pakan monyet ekor panjang  (Macaca fascicularis) telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekan perilaku dan ekologi. Pendekatan perilaku ini dilakukan dengan mengikuti monyet ekor panjang saat melakukan perburuan makan (foraging) dan menghitung frekuensi serta durasinya, sehingga akan diketahui data pakan utamanya. Pendekatan ekologi dilakukan dengan analisis vegetasi dan studi fenologi tumbuhan di habitat monyet ekor panjang. Cara tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, kontinuitas observasi dan visibilitas subjek saat pengamatan. Hal tersebut tentunya membutuhkan pendekatan lain yang memudahkan dalam memperoleh data. Metode alternatif  yang dilakukan untuk mengetahui pakan utama M. fascicularis yaitu menganalisis kandungan fesesnya melalui pengamatan anatomi  terhadap remahan sisa pakan yang terdapat dalam feses tersebut dan mengidentifikasi secara anatomi pakan yang dikonsumsi dengan mengacu terhadap pangkalan data anatomi  tumbuhan  sumber pakan yang dijumpai di sekitar habitatnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara anatomi kandungan feses M. fascicularis yang terdapat di Taman Wisata Alam Pangandaran untuk mengetahui  jenis tumbuhan sumber pakan utamanya. Dari hasil penelitian ini untuk tujuan jangka panjang diharapkan diperoleh metode baku yang dapat dijadikan landasan untuk mengetahui jenis tumbuhan sumber pakan yang dapat diterapkan pada spesies primata lainnya sebagai metode alternatif terhadap pengamatan perilaku makan secara langsung di lapangan.  Di samping itu penelitian ini akan melibatkan mahasiswa sarjana biologi dan akan menghasilkan publikasi ilmiah minimal pada jurnal  nasional terakreditasi.

sepenggal kisah tentang biologi45

Ternyata cinta antara kita telah terbentuk.

Cinta yang mengalir diantara kuliah, praktikum dan segudang laporan.

Tersadar ketika Tak ku sangka  perjuangan kita mendapat gelar sarjana telah di ujung perjumpaan.

Mengenal kalian adalah sebuah kebanggaan.

Rindu ini memenuhi isi hat, tak kuduga air mata ini ikut mengalir terlintas kenangan kebersamaan kita.

Diawal perjumpaan hingga kita semua mendapat gelar sarjana.

Rindu bersama kalian, rindu bersanda gurau dengan kalian, hingga terkadang ditemani pula tangis sedih dan haru.

Indahnya kebersaaan ini membuat ingin terus bersama kalian.

Namun  hidup tak  hanya diam, ia bergerak terus

Kita ini hebat..

kau mampu membuatku tegar menjalani hari bersama biologi.

Kau mampu membuatku merasa tersenyum ketika pikiran ini sungguh penat.

Kau mampu membuatku tertawa ketika perih ini menyayat kalbu.

Kau mampu membuatku  menghapus air mata dan bangkit menatap masa depan yang bersinar gemilang.

Kau ampu membuat ku terinspirasi untuk melakukan hal yang luar biasa dalm hidup ini.

Cerita kita


 

Kala itu ku merenungkan arti cinta.

Cinta….

Jangan lahir dalam hidupku

Kalau ingin buatku menderita,

Jangan hadir dalam hariku

Kalau ingin hancurkan asa milikku,

Jangan menyapaku lagi

Kalau hanya inginkan ku menangis

 

Tersadar dari lamunan,

Terduduk diam sendiri menjalani hari,

Berharap hadirnya seseorang yang mau menemani,

Hingga akhirnya kau tawarkan diri untuk mengisi kekosongan hati.

 

Aku mengenalmu tanpa sengaja,

Kau yang terindah mengisi hariku,

Kau yang sempurna mendampingiku,

Tak kuasa ku menahan asa di dada,

Tak tahan menahan rasa yang mebuncah di hati.

Ingin ku ungkap namun seakan mulut terkunci

 

Kulewati kebersamaan ini bersamamu, kulewati hari denganmu.

Memilikimu adalah sesuatu yang indah,

Kau membuatku merasa spesial dengan apa yang kau lakukan dan apa yang kau katakan,

Kau adalah satu, satu untuk selamanya,

 

satu yang ku cinta sampai nanti sampai ku mati.

 

Ini adalah kisah tentang kita cerita kita tentang cinta.

 

 

 

Dibacakan saat UP Bioman. Semester7. Ruang B1 FKH.

Selasa, 13 Desember 2011

Hanya ingin menjadi orang beruntung

Hanya ingin jadi orang yang berntung

Mungkin ni bukaan jalan yang terbaik yang aku pilih.

mungkin diri ini tak memiliki apapun.

Apa dri ini tak berhak mendapatkan penilaian yang baik.

Atau memeng sistemnya sdah seperti ini.

Aku ingin di beri kesempatan untuk mengembangkan diri. Itu saja.

Aku butuh kesempaatan, mungkin detik ini aku belum mendapatkannya.

Dan mngkin ini adalah takdirNYA. Yang Maha tau atas segala kebutuhan hambanNYA.

Hamba hanya memiliki niat, kemauan dan tekat kuat bagai baja. Namun hasilnya hanya dittukan oleh NYA.

Manusia hanya mampu berusaha semaksimal apa yang dapat dilakukannya.

Jangan hiraukan apa yang akan didapatkan.

JanjiNYA tak akan ernah berdusta, ikhlaskan apa yang terjadi sesuai kehendakNya.

Coretan tangan dari sang pemimpi

Institut pertanian bogor,

Wajahmu begitu elok di lihat dari segala penjuru Indonesia,

Wajahmu begitu indah tampak dari luar singgasanamu,

Kerajaanmu begitu megah sampai tak sembarang orang berhak masuk ke dalamnya,

Institut pertanian Bogor,

Banyak rintangan yang menghadang untuk bisa masuk kedalam singgasanamu,

Persaingan demi persaingan akan terjadi,

Halangan dan rintangan serta cobaan akan menghadang ke setiap orang tak terkecuali saya,

Sampai ditemukan orang-orang berkualitas dan terbaik yang mampu bertahan di sini.

Sebuah mimpi yang terlintas ketika lulus dari seragam putih abu,

Ingin rasanya melanjutkan pendidikan lebih tnggi,

Dengan dorongan semua orang tercinta ku ikuti.

Melalui jalur seleksi masuk perguruan tinggi yang  dikuti,

saya memiliki kunci pintu gerbang menuju ke singgasanamu.

Diperbolehkan masuk menuju singgasana itu.

Walau dengan segala kekhawatiran yang membuncah dalam hati ini.

Hari pertama registrasi ulang mahasiswa baru angkatan 45,

Pagi buta  aku bersama ibunda tercinta berangkat menuju singgasana institut pertanian bogor,

Dengan kecepatan sang kereta api yang tak ku ketahui,

di sambung dengan  menaiki angkutan umum sebanyak dua kali.

Tibalah kami di kerumunan tawa bahagia para orangtua yang bangga akan anaknya,

Di gedung graha widya wisuda, yang tampak sangat megah,

Menjulang tinggi ke angkasa dengan menyamai warna langitMU. Biru.

Berbaris, tertib, rapi, antri untuk memasuki gedung itu,

Dalam ruang tersebut sudah ada meja panjang sesuai jurusan masing-masing.

Satu hal yang aku sangat khawatirkan ternyata aku belum punya tiket untuk memasuki singgasana ini.

 

Waktu berlalu kini aku telah menjadi bagian dari kerajaan ini,

3tahun berlalu begitu cepat,

Ditemani kulaih, praktikum, dan segudang tugas yang menumpuk.

Namun hal ini tak akan mampu menggoyahkan semangat dan tekat bulat yang kurancang dulu.

Kan ku tuntaskan studi ini sampai tercetak gelar sarjana sains.

Kan kulanjutkan menuntut ilmu ini sampai nanti sampai nama depanku terdapat gelar almarhumah.

smoga segala pengorbanan ini terbayar kelak nanti akan kutunjukan pada dunia tubuh ini mampu wujudkan mimpi sukses dan menjadi manusia bermanfaat untuk sekitar.

jari jari menari

tak mudah menjadi seorang dalm mimpi, terlalu banyak hal yang harus diubah dan harus dipelajari. namun harus tetap bertahan ditengah ombak halang rintangan yang menghadang. tak perlu dipikirkan karna tak hanya perlu dipikirkan, namun butuh dilaukan. lakukanlah apapun yang bisa kalian lakukan walaupun hal itu tak banyak berarti.

Amanita muscaria


          Amanita muscaria adalah jamur yang sangat umum di daerah konifer di seluruh belahan bumi utara. Warnanya bervariasi, dari merah terang (A. muscaria var. Muscaria), oranye kekuningan (A. muscaria var. Formosa) menjadi putih (A. muscaria var. Alba), tetapi selalu ada bercak putih pada tubuh buahnya. Cendawan ini  Ada yang menyebut agaric terbang karena di beberapa daerah potongan-potongan kecil jamur terdapat bintik putih susu untuk menarik  perhatian lalat, lalat menjadi mabuk dan menabrak dinding dan mati. Selain berwarna cerah dan bertubuh buah besar, jamur ini beracun dan bersifat halusinogen. Kebanyakan badan berbuah mengandung dua racun, ibotenic asam dan muscimol. Mereka adalah halusinogen dan psikoaktif  yang bekerja pada sistem saraf sebagai reseptor neuropeptide.

            Amanita muscaria merupakan jenis spesies dari filum Basidiomycota, kelas Holobasidiomycetes dan termasuk ke dalam anggota ordo Agaricales. Amanita muscaria sekarang terkenal karena halusinogen properti dengan konstituen psikoaktif utama menjadi senyawa muscimol. Hal ini digunakan sebagai minuman keras dan entheogen oleh orang-orang Siberia dan memiliki makna keagamaan dalam budaya ini.

A. muscaria adalah kosmopolitan jamur, habitatnya daun pohon jarum dan hutan di seluruh iklim dan boreal daerah belahan bumi utara,  termasuk ketinggian tinggi di daerah-daerah lintang lebih hangat seperti Hindu Kush, Mediterania dan Amerika Tengah. Amanita muscaria dapat membentuk Ektomikoriza dan memiliki hubungan simbiotik dengan berbagai jenis pohon, termasuk Pinus, Cemara, Cemara, birch, dan Cedar. Biasa terlihat di bawah pohon,  A. muscaria juga dapat bersifat parasit dan menyerang suatu spesies dan dapat menggantikan spesies asli tersebut.

            Hal menarik dari cendawan ini adalah tubuh buah  makroskopis dan memiliki warna yang mencolok serta memiliki hiasan bintik – bintik putih yang terdapat pada atas tudungnya membuat penampilan cendawan ini semakin cantik. Hiasan putih di atas tudungnya  sangat khas pada jenis cendawan ini. Namun memang benar kata pepatah bahwa tak selamanya yang cantik bisa dinikmati, hanya bisa dilihat tetapi tak bisa dikonsumsi karena beracun.

Penjelasan di atas menyimpulkan bahwa Amanita muscaria termasuk ke dalam filum Basidiomycota. Di bawah ini akan di lampirkan nama – nama cendawan yang termasuk ke dalam filum Basidiomycota yang memiliki dua kelas besar yaitu Holobasidiomycetes dan Hemibasidiomycetes.

  1. 1.      Hemibasidiomycetes

–          Ordo Dacrymycetales

Family Dacrymycetaceae : Calocera cornea, Cerinomyces, Dacrymyces deliquscens.

–          Ordo Tremellales

Famili Tulasnellaceae

Famili Tremellaceae : Tremella fuciformis, Tremella mesenterica.

Famili Sirobasidiacceae

Famili Hyaloriaceae

–          Ordo Auriculariales

Famili Auricularriaceae : Auricularia auricula.

Famili Septobasidiaceae : Septobasidium fumigastum, Uredinella coccidiophaga,

Famili Phleogenaceae

–          Ordo Uredinales

Famili Puciniaceae : Uromyces appendiculatus, Uromyces fabae, Uromyces pisi, Uromyces caryophyllinus, Puccinia graminis, puccinia coronate, Puccinia asparagi, Puccinia malvacearum, Puccinia antirrhini, Gymnoporangium juniperi-virginianae, Gymnoporangium globosum, Gymnoporangium sabinae, Phragmidium sp.

Famili Melampsoraceae : Cronartium ribicola, Colesporium solidaginis,

Famili Coleosporiaceae : Caeoma, Aecidium, Rostelia, Peridermiu,

–          Ordo Ustilaginales : Urocystis cepulae, Tuburcinia trientalis, Thecaphora seminis-convolvuli.

Famili Ustilaginaceae: Ustilago maydis.

Famili Tilletiaceae : Tilletia carries, Tilletia foetida

Famili Graphiolaceae : Graphiolaceae Schroeteria delestrina.

 

  1. 2.      Holobasidiomycetes

–          Ordo Agaricales

Famili Exobasidiaceae : Exobasidium vaccinii

Famili Thelephoraceae: Stereum frustulatum, Stereum purpureum, Stereum hirsutum, Sterum gausapatum.

Famili Clavariaceae    : Clavaria sp.

Famili Hydnaceae       : Hericium coralloides, Hericium laciniatum, hericium erinaceus,

Famili Polyporaceae   : Polyporus sulphureus, Polyporus squamosus, Polyporus versicolor, Polyporus cinnabarinus.

Famili Agariaceae       : Agaricus rodmani, Agaricus campestris, Pleurotus sapidus, Pleurotus cervinus, Coprinus comatus.  

Famili Boletaceae        : Boletus sphaerosporus.

–          Ordo Hymenogastrales: Endoptychum agaricoides.

–          Ordo Lycoperdales     : Lycoperdon oblongisporum, Calvatia gigantean, Geastrum sp.

–          Ordo Phallales            : Dictyophora duplicata, Phallus impudicus.

–          Ordo Scelerodermatales: Scleroderma sp.

–          Ordo Nidulariales       : Crucibulum vulgare, Cyathus striatus.

 

biofisik

Pendahuluan

Rasio suatu massa suatu benda atau zat dengan massa air pada volum dan temperatur yang sama disebut bobot jenis. Massa jenis zat cair dapat diukur secara langsung dan tidak langsung. Mengukur massa jenis secara langsung dengan menggunakan alat hidrometer. Alat itu berupa tabung kaca berskala dan bagian bawahnya diberi pemberat. Masa jenis zat cair dapat diketahui secara langsung dari skala yang segaris dengan permukaan zat cair. Hidrometer berskala 1,000-1,060 dengan interval 0.001. jika suhu cairan yang diukur bukan 60F, maka harus dikoreksi terlebih dahulu.

Tegangan permukaan merupakan salah satu sifat akibat gaya langsung dari gaya antarmolekul yang terdapat dalam zat cair. Jadi tegangan permukaan cairan dapat didefinisikan sebagai daya tahan lapisan tipis suatu permukaan cairan terhadap gaya untuk mengubah luas permukaan cairan. Besar kecilnya tegangan permukaan cairan tergantung pada zat terlarut dalam cairan tersebut. Jika konsentrasi zat terlarut pada permukaan lebih kecil dari konsentrasi zat yang ada di dalammya, maka akan menaikan tegangan permukaan dan sebaliknya. Selain itu tegangan permukaan berhubungan dengan gaya grafitasi. Jika gaya gravitasi lebih besar dari tegangan permukaan maka cairan akan jatuh, jika gaya grafitasi sama besar dengan tegangan permukaan maka cairan akan tetap pada posisinya.

Emulsi merupakan larutan metastabil yang terdiri dari dua atau lebih senyawa yang saling tidak melarutkan. Dalam emulsi terdapat dua fase, yaitu fase terdispersi dan fase pendispersi sebagai medianya. Ada dua jenis emulsi berdasarkan asalnya, yaitu emulsi alamiah (merupakan produk dari sistem metabolisme makhluk hidup) dan emulsi industri. Sedangkan dua tipe emulsi berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, maka emulsi dibedakan menjadi dua : emulsi tipe W/O (emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar dalam minyak, air berfungsi sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal) dan emulsi tipe O/W (emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar kedalam air) (Ansel,1989).

Sistem koloid terdiri atas fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Ukuran partikel koloid berkisar antara 1 nm- 100 nm. Jadi tergolong heterogen dan merupakan sistem dua fase. Koloid yang memiliki medium dispersi cair dibedakan atas koloid liofil dan koloid liofob. Suatu koloid disebut koloid liofil. Apabila terdapat gaya tarik-menarik tersebut tidak ada atau lemah. Liofob berarti takut cairan (Keenan, 1980).

Larutan penyangga atau larutan buffer atau dapar adalah larutan yang dapat mempertahankan nilai pH tertentu. Bila ditambahkan asam atau basa, kerja penyangga itu jelas kelihatan terutama bila asam atau basa berada bersama-sama dalam kepekatan yang sama kemolarannya (Rivai, 1995). Larutan penyangga dapat dibedakan atas larutan penyangga asam dan larutan penyangga basa. Larutan penyangga asam mempertahankan pH pada daerah asam (pH<7), sedangkan larutan penyangga basa mempertahankan pH pada daerah basa (pH>7). Larutan penyangga digunakan secara luas dalam kimia analitis, biokimia, bakteriologi, fotografi serta industri kulit dan zat warna. Cairan tubuh baik intra sel maupun ekstrasel merupakan larutan penyangga. Larutan penyangga tidak berubah pHnya bila diencerkan (Petrucci, 1985).

Osmosis adalah perembesan pelarut dari pelarut murni ke dalam larutan atau dari larutan yang lebih encer ke larutan yang lebih pekat melalui selaput semipermeabel. Osmosis dapat dicegah dengan memberi suatu tekanan pada permukaan larutan. Tekanan yang di perluakan untuk menghentikan aliran pelarut dari pelarut murni menjadi larutan. Tekanan osmotik tergolong sifat koligatif karena harganya bergantung pada konsentrasi bukan pada jenis partikel. Pengukuran tekanan osmotik juga digunakan untuk menetapkan massa molekul relative zat, teristimewa untuk larutan yang sangat encer atau untuk zat yang massa molekulnya relatif sangat besar.

 

Tujuan

Pada percobaan biofisik ini bertujuan untuk mengamati dan mengetahui sifat-sifat biofisik berbagai larutan baik wujudnya maupun material yang menyusun larutan tersebut. Selain itu menentukan bobot jenis berbagai larutan, mengetahui pengaruh tegangan permukaan, mempelajari cara pembuatan berbagai macam emulsi, koloid, dan larutan bufer serta mempelajari tentang tekanan osmotik pada larutan dan darah.

 

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah hidrometer, gelas ukur, tabung reaksi, termometer, jarum, gelas arloji,  pipet tetes, mohr, pipet volumetric, bulp, mortar, gelas piala, mikroskop, indikator pH, dan kaca objek.

Bahan-bahan yang digunakan adalah akuades, air kelapa, air sumur, air sungai, urin manusia, larutan NaCl 3%, NaCl 5%, NaCl 0,3%, NaCl 0.9%,  air sabun, cairan empedu, eter, alkohol, minyak tanah, NaHPO, KHPO larutan NaCl 20%, minyak kelapa, gum arab, susu, margarin, sudan merah, gelatin 2%, pati 2%, biru berlin, Ferihidroksida, MgSO, CuSO, NaCl 10%,  Asam Asetat, dan Natrium Asetat.

 

Prosedur percobaan

Bobot jenis akuades, NaCl 3%, NaCl 5%, air kelapa, air sumur, air sungai, dan urin diukur dengan hidrometer. Percobaan tegangan permukaan dilakukan dengan meletakan satu jarum pada gelas arloji, kemudian diisi akuades, cairan empedu, air kelapa, air sungai, air sabun , secara bergantian. Kemudian diamati apa yang terjadi pada jarum di tiap-tiap larutan, mengapung atau tenggelam. Untuk mengetahui hubungan jumlah tetesan beberapa cairan dengan tegangan permukaan dilakukan dengan mengambil 1 ml larutan akuades, NaCl 20%, alkohol, minyak tanah, dan air sabun secara bergantian. Dengan cara di masukan ke dalam  pipet mohr dan hitung jumlah tetesan tiap cairan ilmiah tersebut.

Pada pembuatan emulsi minyak kelapa dengan air dilakukan dengan menggabungkan minyak kelapa dengan air masing-masing volumenya sama dalam tabung reaksi lalu dikocok dan kestabilannya diamati. Lalu dilakukan hal yang sama pada pembuatan emulsi miyak kelapa dengan air sabun. Pada pembuatan emulsi minyak kelapa dengan gum arab yaitu 1gram gum arab dicampur dengan 5ml minyak kelapa dalam mortar, kemudian gerus sampai homogen, lalu dicampur lagi dengan 3ml air dan diaduk kembali sampai homogen, kemudian ditambahkan 5ml air sedikit demi sedikit dan diaduk, setelah itu tetesannya amati dibawah mikroskop. Untuk emulsi alamiah, susu segar diamati kestabilannya didalam tabung reaksi, kemudian tetesannya, diamati di bawah mikroskop, begitu juga dengan emulsi industri, misalnya margarin, diamati kestabilannya di bawah mikroskop.

Pada proses pengendapan koloid dengan garam ada dua pengamatan yaitu, pengendapan garam dengan liofil dengan cara gelatin 3ml dan NaCl 10% 1ml di campur, karena belum terdapat endapan maka ditambahkan dengan MgSO. Pengendapan koloid liofob dengan cara biru berlin dan ferihidroksida dicampur dengan NaCL 10% pada tiap tabung reaksi. Kemudian diamati apa yang terjadi, apakah terbentuk endapan.

Pada percobaan Buffer, diminta untuk membuat buffer asam lemah dengan garamnya dan basa lemah dengan garamnya. Pada buffer Asetat, disediakan 5 tabung reaksi, tabung pertama  campuran 23,125 ml Asam asetat dengan 1,8 ml Natrium Asetat, tabung kedua campuran 20,5 ml Asam Asetat dengan 4,5 ml Natrium Asetat, tabung ketiga campuran 15,75 ml Asam Asetat dengan 9,25 ml, tabung keempat campuran 10 ml Asam Asetat dengan 15 ml Natrium Asetat, dan tabung kelima campuran 5,25 ml Asam asetat dengan 19,75 ml Natrium Asetat. Kemudian diukur pH masing-masing. Begitu juga pada buffer Fosfat standar, dicampur larutan 1/15 M NaHPOdan KHPOdengan berbagai perbandingan, tabung reaksi pertama 1,25 ml : 23,75 ml, tabung kedua 3ml :  22 ml, tabung ketiga 6,625 ml : 18,375 ml, tabung keempat 12,5 ml : 12,5 ml, dan tabung kelima 17,875 ml : 7,125 ml. kemudian dihitung pH masing-masing tabung reaksi.

Pada percobaan Tekanan Osmotik pada darah, dimasukan 5ml NaCl 0,3% NaCl 0,9% dan NaCl 5% pada tiga buah tabung reaksi. Kemudian darah diambil satu atau dua tetes. Disuspensikan dengan NaCl yang disediakan. Perhatikan suspensi yang  dibentuk, apakah terdapat endapan kemudian  diamati di bawah mikroskop.

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Percobaan

Tabel 1 Bobot jenis zat cair

No

Jenis Zat cair

T(C)

T(C)

BJ ukuran (g/ml)

BJ terkoreksi (g/ml)

1

Akuades

20

30

1,000

1,003

2

NaCl 3%

20

30

1,018

1,021

3

NaCl 5%

20

29

1,031

1,034

4

Air kelapa

20

31

1,010

1,014

5

Air sumur

20

31

6

Air sungai

20

31

7

Urin

20

31

1,029

1,033

 

T  : 20C

Contoh perhitungan :

  • Air kelapa      = 3,67  4

Jadi nilai BJ terkoreksi = 1,010 + 0,004 = 1,014 g/ml

 

 

Tabel 2  Tegangan permukaan cairan alamiah

No

Jenis Zat Cair

Terapung/Tenggelam

1

Akuades

Terapung

2

Cairan empedu

Terapung

3

Air kelapa

Terapung

4

Air sungai

Terapung

5

Air sabun

Tenggelam

 

 

 

 

 

Tabel 3  Jumlah tetesan dan tegangan permukaan cairan

No

Jenis Zat Cair

Jumlah Tetesan

1

Akuades

37

2

Alkohol

85

3

Minyak tanah

90

4

Air sabun

84

5

NaCl 20%

48

 

Tabel 4  Emulsi

No

Jenis Campuran

Jenis Emulsi

Fase pendispersi

Fase terdispersi

1

Minyak kelapa+air

W/O

Minyak

air

2

Minyak kelapa+sabun

O/W

Air

Minyak

3

Minyak kelapa+gum arab

W/O

Minyak

Air

4

Susu

O/W

Air

Minyak

5

Margarin

W/O

Minyak

Air

Gambar Emulsi

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 susu segar.                                         Gambar 2 gum arab.

Perbesaran : 10x 10                                            Perbesaran : 10x 10

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3 margarin

Perbesaran : 10 x 10

Tabel 5 Pengendapan koloid dengan garam

No

Larutan

Jenis koloid

Hasil

Pengamatan

1

Gelatin

Liofil

+

Endapan setelah di tambah MgSO 21sendok

2

Pati

Liofil

++

Endapan tanpa di tambah MgSO

3

Biru berlin

Liofob

+++

Endapan

4

Ferihidroksida

Liofob

+++

Endapan

Keterangan :

+++     : terbentuk endapan cepat

++        : tebentuk endapan lambat

+          : terbentuk endapan dengan bantuan MgSO

Tabel 6 Sifat larutan koloid

No

Jenis koloid

Sifat

            Keterangan

1

Biru berlin

Non polar

Tidak berdifusi

2

Eosin

Polar

Difusi

3

Giemsa

Polar

Difusi

4

CuSO

Polar

Difusi

 

Tabel 7 pH dan larutan penyangga (Wolepole)

No

Volume

 As. Asetat

Volume

 Natrium asetat

pH

Kapasitas buffer

1

23,25 ml

1,875 ml

3

0,77

2

20,5 ml

4,5 ml

4

0,86

3

15,75 ml

9,25 ml

4

0,95

4

10 ml

15 ml

5

1,03

5

5,25 ml

19,75  ml

6

1,12

Contoh perhitungan :

Diket   : Ka CH3COOH                      = 1,76 x 10-5

pKa                                       = – log Ka        =  5 – log 1,76 = 4,754

Ditanya : kapasitas buffer?

Jawab :

Mol asam         = 23,25 ml x 0,1 mmol/ml

= 2,325 mmol

Mol garam       = 1,875 ml x 0,1 mmol/ml

= 0,1875 mmol

[H+]     =  Ka x

= 1,76 x 10 x

= 2,18 x 10

pH       = – log [H+]

= 4 – log 2,18

= 3,66

Kapasitas buffer          =

=

= 0,77

Tabel 8 pH dan larutan penyangga (Sorrensen)

No

Volume NaHPO

Volume KHPO

pH

Kapasitas buffer

1

1,25 ml

23,75 ml

6

1,17

2

3 ml

22 ml

6

1.12

3

6,625 ml

18,375 ml

6

1,06

4

12,5 ml

12,5 ml

7

1,00

5

17,875 ml

7,125 ml

7

0,9

 

Contoh perhitungan :

Diket   : Ka NaHPO          = 6,20 x 10-8

pKa                           = – log Ka        =  8 – log 6,20 = 7,20

Ditanya : kapasitas buffer?

 

Jawab :

Mol asam         =  1,25 ml x  mol/ml

= 0,083 mmol

Mol garam       = 23,75 ml x  mol/ml

= 1,583 mmol

[H+]     =  Ka x

=  6,20 x 10-8 x

= 3,25 x 10

pH       = – log [H+]

= 9 – log 3,25

= 8,48

Kapasitas buffer          =

=

=  1,17

Tabel 9 Tekanan Osmosis sel darah

No

Jenis larutan

Endapan

           Sifat larutan

1

NaCl 0,3 %

+

Hipotonik

2

NaCl 0,9%

++

Isotonik

3

NaCl 5 %

+++

Hipertonik

 

Keterangan :

+          : sedikit endapan

++        : endapan sedang

+++     : endapan jelas terlihat (banyak)

 

 

 

Gambar sel darah dalam larutan berbagai konsentrasi :

 

                                                                                               

                                               

                                               

 

 

Gambar 4  NaCl 0,3 %.                                               Gambar 5  NaCl 0,9 %.

Perbesaran : 10x 10                                                    Perbesaran : 10x 10

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6 NaCl 5 %.

Perbesaran : 10 x 10

 

Pembahasan

Bobot jenis suatu larutan berbeda-beda, tergantung pada macam pelarut dan banyaknya zat yang terlarut di dalamnya. Mengukur bobot jenis dapat menggunakan hidrometer, alat ini berupa tabung kaca berskala dengan bagian bawahnya diberi pemberat. Cara menggunakan alat ini yaitu dengan cara memasukkannya dalam zat cair yang akan diuji. Pada percobaan ini suhu alat yang digunakan adalah 20C, maka harus dilakukan koreksi untuk memperkecil kesalahan.

Dari hasil pengamatan bobot jenis, bobot yang paling besar adalah NaCl 5% dan yang paling kecil adalah akuades. Jika  di bandingkan NaCl 3% dan NaCl 5 % mengapa bobot jenis yang paling besar adalah NaCl 5 %, karena semakin besar konsentrasi senyawa suatu larutan, maka semakin besar pula berat jenis larutan tersebut, ini sesuai dengan teori yang ada. Selain itu jika akuades dan air kelapa dibandingkan bobotnya tidak sebesar NaCl karena akuades mengandung zat-zat terlarut. Pada percobaan ini tedapat kesalahan karena bobot jenis dari air sumur dan air sungai menunjukan angka di atas 1,000 g/ml, padahal rentang skala hidrometer antara 1,000-1,060 g/ml, kemungkinan air sumur dan air sungai sudah terkontaminasi dengan zat lain sehingga bobot jenisnya  tidak dapat terdeteksi. Selain mengukur larutan-larutan tersebut, urin manusiapun diukur menggunakan urinometer. Prinsip kerja alat ini sama dengan hidrometer. Setelah melakukan percobaan, bobot urin yang didapat adalah 1,0033, sedangkan menurut literatur urin yang sehat berkisar antara 1,010 – 1,030 (Ganong, 2001). Kemungkinan hal ini terjadi karena probandus sedang berpuasa, jadi kandungan air dalam urin berkurang.

Adanya tegangan permukaan karena terdapat interaksi antar molekul larutan sehingga memberikan daya tolak untuk mempertahankan luas permukaan. Pada percobaan jumlah tetesan, tetesan yang paling banyak adalah pada minyak tanah, alkohol dan air sabun. Hal ini terjadi karena tegangan permukaan zat cair tersebut rendah sehingga jumlah tetesan yang dihasilkan tinggi. Sedangkan pada akuades dan NaCl 20% jumlah tetesan tidak terlalu banyak ini disebabkan tegangan permukaan pada akuades dan NaCl tinggi sehingga daya tolak untuk mempertahankan luas permukaan tinggi jadi jumlah tetesan yang dihasilkan larutan ini rendah, selain itu disebabkan molekul-molekul yang terdapat pada air dan NaCl berinteraksi lebih kuat yang mengakibatkan tiap tetes yang dihasilkan lebih besar, jadi jumlah tetesnya rendah. Walaupun alkohol memiliki ikatan hidrogen, namun alkohol adalah cairan yang mudah menguap, sehinggagayaantar molekulnya lemah, sedangkan sabun adalah cairan yang menurunkan tegangan permukaan zat cair. Data ini menunjukan, bahwa semakin besar tegangan permukaan suatu larutan maka semakin kuat permukaan larutan memberikangayatolak atas bagi benda yang ada di atasnya. Ini terbukti pada jarum yang diletakkan pada gelas arloji yang kemudian diberi cairan akuades, air sungai dan air kelapa yang terlihat mengapung. Sedangkan jika cairan di ganti dengan cairan empedu dan air sabun jarum yang ada pada gelas arloji akan tenggelam, karena kedua cairan ini mengandung zat emulgator yang berfungsi menurunkan tegangan permukan zat cair, namun pada percobaan cairan empedu terapung dan hanya pada air sabun yang terapung, kemungkinan terjadi karena saat pencucian gelas arloji kurang bersih sehingga ada kemungkinan cairan empedu tercampur dengan larutan lain.

Emulsi merupakan sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain yang tidak saling melarutkan. Air dan minyak selamanya tidak akan bisa menyatu. Jika kita hendak mencampurkan keduanya, maka dalam sekejap keduanya akan memisah kembali. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan tingkat polaritas di antara dua zat tersebut. Air merupakan molekul yang memiliki gugus polar. Sedangkan minyak merupakan zat yang memiliki gugus non polar. Perbedaan ini menyebabkan keduanya tidak bisa menyatu, karena gugus polar hanya bisa bersatu dengan gugus polar, sedangkan gugus non polar hanya bisa bersatu dengan gugus non polar. Minyak kelapa dan air merupakan emulsi yang tidak stabil, namun ketika campuran tersebut dikocok akan menjadi stabil beberapa saat. Pada emulsi ini minyak kelapa dengan air, yang menjadi media pendispersinya adalah minyak kelapa, sedangkan air sebagai zat terdispersi. Ketikan ditambah sudanmerah, sudanmerah tercampur dengan minyak, sedangkan air tidak bias menyatu karena kepolarannya berbeda. Sudanmerah berfungsi sebagai zat warna agar dapat membedakan cairan minyak dengan air dan dapat menarik air. Emulsi diatas dinamakan emulsi tipe W/O, karena air terdispersi dalam minyak (Ansel, 1989). Sedangkan pada emulsi minyak kelapa dengan air sabun membentuk emulsi yang lebih stabil Emulsi ini disebut emulsi O/W ( minyak dalam air). Hal ini karena air sabun yang sebagai zat amfipatik yang memiliki stuktur dua gugus yaitu hidofobik pada bagian ekor yang bersifat non-polar dan hidrofilik pada bagian kepalanya yang bersifat polar. Sehingga bagian non-polar akan bergabung dengan minyak yang kemudian bersama-sama bergabung dengan air (Fessenden, 1986). Pada emulsi minyak kelapa dengan gum arab adalah emulsi yang lebih stabil jika dibandingkan dengan kedua emulsi diatas, karena gum arab berfungsi sebagai mengurangi tekanan permukaan (surface tension) air dan stabilizer (emulsifier), zat yang dapat menstabilkan emulsi. Jika dilihat di bawah mikroskop, molekul gum arab terdispersi merata dalam media minyak.

Susu disebut juga sebagai emulsi alamiah, fase terdispersi dari susu adalah asam lemak dan media pendispersinya adalah air. Jadi tergolong emulsi O/W (minyak dalam air). Dalam susu terdapat zat penstabil emulsi yang berupa protein kasein. Jika mengalami denaturasi maka emulsi ini akan terlihat tidak stabil, dapat dibedakan minyak dan airnya, keadaan ini yang disebut dengan susu pecah. Contoh lain dari emulsi alamiah adalah santan dan lateks. Di samping emulsi alamiah terdapat pula emulsi industri. Contoh dari emulsi industri yaitu margarin, dan minyak bumi. Fase terdispersi pada margarin adalah air dan media pendispersinya adalah minyak, sehingga dinamakan tipe emulsi W/O.

Percobaan pengendapan koloid liofob dengan garamnya menggunakan larutan Biru berlin dan Ferihidroksida dengan hasil terbentuk endapan dengan cepat hal ini karena sifat liofob yang takut air, selain itu sifat larutan koloid liofob yang mudah menggumpal jika ditambah elektroloit dengan penambahan garam yang berfungsi menarik air maka larutan ini cepat mengendap. Sementara  pada larutan liofil yang memiliki sifat tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit sehingga, pada larutan gelatin harus ditambahkan MgSO agar jenuh dan mengendap.

Hasil pengamatan difusi melalui gel pada beberapa larutan menunjukan, koloid biru berlin tidak berdifusi, sedangkan pada eosin yang berwarna merah, CuSO, dan larutan giemsa, berdifusi dengan gel yang ada pada tabung reaksi. Biru berlin merupakan senyawa sintesis tertua, biru berlin sangat larut, tapi cenderung untuk membentuk koloid sehingga tak mampu untuk berdifusi dengan gel gelatin yang bersifat polar.

Suatu larutan yang mengandung suatu asam lemah plus suatu garam dari asam itu, atau suatu basa lemah plus garam dari basa itu, mempunyai kemampuan bereaksi baik dengan asam kuat maupun basa kuat. Sistem larutan ini di sebut Larutan buffer (larutan penyangga) yang jika ditambahkan sedikit asam atau sedikit basa tidak akan merubah pH. Hasil percobaan membuktikan pada buffer standar fosfat, pH tidak berubah jauh. Namun pada buffer standar Asetat sedikit berbeda kartena perbandingan volume yang terlalu berbeda jauh, sehingga perbedaan pH sedikit terlihat.

Osmosis adalah aliran suatu pelarut dari suatu larutan dengan konsentrasi rendah ke larutan dengan konsentrasi tinggi, lewat suatu membran semipermeabel (Keenan, 1980). Jadi tekanan osmotik adalah tekanan tambahan yang harus diberikan pada permukaan larutan untuk mencegah osmosis. Jika di lihat kepekatan larutan NaCl jika di urutkan dari yang paling encer ke yang paling pekat yaitu NaCl 0,3%, NaCl 0,9%, dan NaCl 5%, sehingga endapan yang jelas terlihat pada larutan NaCl 5%. Contoh osmosis yang terdapat dalam tubuh makhluk hidup adalah sel darah merah. Dinding sel darah merah memiliki ketebalan kira-kira 10 nm danporidengan diameter 0,8 nm. Molekul air berukuran kurang dari setengah diameter tersebut sehingga dapat lewat dengan mudah. Cairan dalam sel darah merah mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan larutan NaCl 0,9 % yang disebut juga dengan larutan fisiologis. Dengan kata lain, cairan sel darah merah isotonik dengan larutan NaCl 0,9%. Jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,9 %, tidak akan ada aliran bersih air melalui dinding sel. Akan tetapi, jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,9%, contonya NaCl 5%, maka air akan keluar dari dalam sel dan sel akan mengkerut. Larutan yang demikian dikatakan hipertonik. Sebaliknya, jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan yang lebih encer dari NaCl 0,9% contohnya NaCl 0,3% maka air akan masuk ke dalam sel dan sel akan menggembung. Larutan itu dikatakan hipotonik. Plasmolisis merupakan peristiwa lepasnya membran plasma dari dinding sel, akibatnya membran plasma akan terlepas dari dinding sel. Sementara plasmoptosis adalah peristiwa masuknya zat cair ke dalam sel sehingga sel akan mengembang.

 

Simpulan

            Bobot jenis larutan dapat dihitung menggunakan hidrometer. Hasil pengukuran bobot jenis yang terkecil adalah akuades yaitu 1,003 g/ml, sedangkan yang terbesar adalah NaCl 5% yaitu 1,034 g/ml. Pada penentuan tegangan permukaan, diperoleh bahwa yang memiliki tegangan permukaan tinggi adalah akuades dan NaCl 20%, sedangkan yang tegangan permukaannya rendah adalah alkohol,minyak tanah, dan air sabun. Emulsi yang paling tidak stabil adalah emulsi minyak kelapa dengan air dengan tipe emulsi W/O. emulsi minyak dan air sabun merupakan emulsi O/W, minyak dengan gum arab W/O,  sedangkan susu merupakan emulsi O/W. Proses pengendapan koloid dengan garamnya yang terbentuk endapan lebih cepat adalah koloid liofob dibanding liofil. Larutan buffer menyangga pH jika terjadi sedikit penambahan asam atau basa. Sel darah merah isotonik dengan larutan NaCl 0,9%. Jika sel darah dimasukan ke larutan yang lebih encer akan mengalami hipotonik, sedangkan jika dimasukan ke dalam larutan yang lebih pekat akan mengalami hipertonik.

AMINO DAN PROTEIN

Pendahuluan

            Asam amino adalah senyawa dengan molekul yang mengandung baik gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (-NH2). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa (Keenan 1980). Dalam bentuk larutan, asam amino bersifat amfipatik yaitu cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter-ion (Staley 1992).

Terdapat dua jenis asam amino berdasarkan kemampuan tubuh dalam sintesisnya, yaitu asam amino esensial dan asam amino non esensial. Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis di dalam tubuh, tetapi diperoleh dari luar misalnya melalui makanan ( lisin, leusin, isoleusin, treonin, metionin, valin, fenilalanin, histidin, dan arginin). Asam amino non esensial adalah asam amino yang dapat disintesis di dalam tubuh melalui perombakan senyawa lain (Almatsier 2001).

Protein adalah polimer dari asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida (Montgomery 1993). Terdapat dua puluh macam asam amino yang dibagi berdasarkan gugus R-nya,yaitu asam amino non-polar dengan gugus R yang hidrofobik, antara lain Alanin, Leusin, Fenilalanin, Triptofan dan Metionin. Golongan kedua yaitu asam amino polar tanpa muatan pada gugus R yang beranggotakan Lisin, Serin, Treonin, Sistein, Glutamin. Golongan ketiga yaitu asam amino yang bermuatan positif pada gugus R dan golongan keempat yaitu asam amino yang bermuatan negatif pada gugus R ( Wirahadikusumah 2008).

Denaturasi protein dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhadap struktur sekunder, tertier dan kuartener molekul protein tanpa terjadinya pemecahan ikatan-ikatan kovelen. Karena itu, denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hidrogen, interaksi hidrofobik, ikatan garam dan terbukanya lipatan molekul protein (Winarno 1992).

Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isolistrik yang berbeda-beda. Titik isolistrik adalah daerah pH tertentu dimana protein tidak mempunyai selisih muatan atau jumlah muatan positif dan negatifnya sama, sehingga tidak bergerak ketika diletakkan dalam medan listrik. Pada pH isolistrik, suatu protein sangat mudah diendapkan karena pada saat itu muatan listriknya nol (Fessenden 1986).

Albumin, gelatin, kasein pepton, fenol merupakan contoh dari protein. Protein albumin salah satunya terdapat dalam putih telur. Gelatin meleleh bila dipanaskan, namun akan segera menjadi padat lagi apabila didinginkan. Protein penyusun gelatin adalah berjenis asam amino non esensial (Glisin dan Prolin) salah satunya terdapat di kulit. Protein yang terbesar kandungannya dalam susu adalah kasein yang mengandung Tirosin dan Triptofan, protein ini relatif tidak bisa larut dan cenderung membentuk struktur yang disebut misel yang dapat meningkatkan kelarutannya di air.

 

Tujuan

Tujuan dari percobaan kali ini, melakukan uji umum protein dengan uji Ninhidrin, mengetahui adanya gugus fenolik yaitu tirosin dan turunannya dengan pengujian Milon, uji Hopkins-Cole dilakukan untuk menguji adanya triptofan dalam molekul protein, uji adanya sistein dalam larutan dengan uji belerang, menentukan jenis protein yang mengandung inti benzena melalui pengujian Xanthoproteat, mengamati adanya ikatan dipeptida pada larutan protein dengan pereaksi Biuret, mengetahui pengaruh beberapa logam, garam, dan  alkohol dalam hal pengendapan protein, serta mengamati protein pada titik isolistriknya.

 

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum asam amino dan protein ini adalah tabung reaksi, pengaduk, gegep, gelas piala, pipet tetes, pipet Mohr, kertas saring, corong, rak tabung reaksi dan penangas air.

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, fenol 2%, pereaksi Milon, pereaksi Hopkins Cole, pereaksi Biuret, Ninhidrin, H2SO4, NaOH, HNO3, CuSO4, HgCl2, AgNO3, (NH4)2SO4, HCl, Pb-asetat 5%, etanol dan buffer asetat pH 4.7.

 

 

 

Prosedur percobaan

Pada uji Millon, sebanyak 5 tetes pereaksi Millon ditambahkan ke dalam 3 ml larutan protein, kemudian dipanaskan. Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

Uji Hopkins-Cole dilakukan dengan cara, 2 ml larutan protein dicampur dengan pereaksi 2 ml Hopkins-Cole dalam tabung reaksi. Ditambahkan 3 ml H2SO4 pekat melalui dinding tabung sehingga membentuk lapisan dari cairan. Didiamkan, dan amati yang terjadi. Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

Uji umum protein menggunakan pereaksi Ninhidrin dilakukan dengan cara, sebanyak 0.5 ml Ninhidrin 0.1% ditambahkan ke dalam 3 ml larutan protein. Dipanaskan selama 10 menit, diamati perubahan warna yang terjadi. Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

Pada pengujian belerang, 2 ml larutan protein ditambah 5 ml NaOH 10%, kemudian  dipanaskan selama 5 menit. Kemudian ditambah 2 tetes larutan Pb-asetat 5%, pemanasan dilanjutkan, diamati warna yang terjadi. Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

Uji Xanthoproteat dengan cara sebanyak 2 ml larutan protein ditambahkan 1 ml HNO3 pekat, dicampur, kemudian dipanaskan, diamati timbulnya warna kuning tua. Didinginkan, ditambahkan tetes demi tetes larutan NaOH pekat sampai larutan menjadi basa. Diamati perubahan yang terjadi. Uji dilakukan terhadap larutan albumin 2%, gelatin 2%, kasein 2%, pepton 2%, dan fenol 2%.

Pada uji Biuret, sebanyak 3 ml larutan protein ditambah 1 ml NaOH 10% dan dikocok. Ditambahkan satu tetes larutan CuSO4 0.1% dan kocok kembali. Diamati perubahan warna yang terjadi..

Pada pengendapan protein oleh logam, ke dalam 1.5 ml albumin ditambahkan 3 tetes larutan HgCl2 2%, percobaan diulangi dengan larutan Pb-asetat 5%, dan AgNO3 5%. Kemudian diamati apa yang terjadi.

Pengendapan oleh garam, 5 ml larutan protein dijenuhkan dengan amonium sulfat yang ditambahkan sedikit demi sedikit, kemudian diaduk hingga mencapai titik jenuh dan disaring. Lalu diuji kelarutannnya dengan ditambahkan air, untuk endapan diuji dengan pereaksi Millon dan filtrat dengan pereaksi biuret.

Uji koagulasi dilakukan dengan cara, Ditambahkan 2 tetes asam asetat 1 M ke dalam tabung yang berisi 3 ml larutan protein, kemudian tabung tersebut diletakkan dalam air mendidih selama 5 menit. Lalu diambil endapan dengan batang pengaduk, untuk endapan diuji kelarutannya dengan air , sementara endapan dengan pereaksi Millon.

Pengendapan oleh alkohol, Disiapkan 3 tabung reaksi, tabung pertama diisi campuran 2.5 ml larutan albumin, 0.5 ml HCl 0.1 M dan 3 ml etanol 95%. Ke dalam tabung kedua dimasukkan2.5 ml larutan albumin, 0.5 ml NaOH 0.1 M dan 3 ml etanol 95%. Ke dalam tabung ketiga 2.5 ml larutan albumin, 0.5 ml buffer asetat ph 4,7 dan 3 ml etanol 95%.

Pada percobaan denaturasi protein siapkan 3 tabung reaksi, tabung reaksi pertama diisi 4.5 ml larutan albumin dan 0.5 ml HCl 0.1 M, tabung reaksi kedua 4.5 ml larutan albumin dan 0.5 ml NaOH 0.1 M dan kedalam tabung reaksi ketiga ditambahkan 4,5 ml larutan albumin dan0.5 ml buffer asetat pH 4.7.

Pembahasan

Prinsip dari uji Millon adalah pembentukan garam merkuri dari tirosin yang ternitrasi dan menunjukkan reaksi positif yang ditandai dengan terbentuknya warna merah. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa semua larutan yang diujikan menunjukkan hasil yang negatif. Seharusnya albumin, kasein , dan fenol hasil ujinya positif karena mengandung Tirosin sebagai salah asam amino penyusunnya, sedangkan gelatin dan pepton tidak mengandung tirosin. Uji Millon pada praktikum ini  berlainan dengan literatur.

Untuk uji Hopkins-Cole didapatkan hasil bahwa larutan albumin, gelatin,  dan fenol menunjukkan hasil positif yang ditandai dengan terbentuknya cincin berwarna ungu, sedangkan pepton dan kasein menunjukkan hasil negatif. Uji ini spesifik untuk protein yang mengandung triptofan. Triptofan akan berkondensasi dengan aldehid bila ada asam kuat sehingga membentuk cincin berwarna ungu.

Reaksi Ninhidrin digunakan sebagai uji umum protein. Pemanasan dengan Ninhidrin menghasilkan produk berwarna ungu pada semua asam amino yang mempunyai gugus L α-amino bebas, sedangkan produk yang dihasilkan oleh prolin dan hidroksiprolin berwarna kuning. Dari hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa dari larutan yang diuji, hanya fenol dan gelatin yang menunjukkan uji negatif terhadap ninhidrin. Hal ini disebabkan karena pada gelatin dan fenol tidak mengandung sedikitnya satu gugus karboksil dan amino yang terbuka. Berikut adalah reaksi uji Ninhidrin :

 

Ninhidrin                                                                     warna ungu

Pengujian adanya belerang dalam protein didapatkan hasil bahwa hanya albumin yang bereaksi positif karena albumin mengandung sistein dan metionin. Reaksi Pb-asetat dengan asam-asam amino tersebut akan membentuk endapan berwarna kelabu, yaitu garam PbS. Penambahan NaOH dalam hal ini adalah untuk mendenaturasikan protein sehingga ikatan yang menghubungkan atom S dapat terputus oleh Pb-asetat membentuk PbS.

Protein mengandung asam amino berinti benzena,  jika ditambahkan asam nitrat pekat akan mengendap dengan endapan berwarna putih yang dapat berubah menjadi kuning sewaktu dipanaskan. Inti benzena dapat ternitrasi oleh asam nitrat pekat menghasilkan turunan nitrobenzena. Albumin, gelatin, fenol yang mengandung inti benzena pada molekulnya juga mengalami reaksi positif dengan HNO3 pekat, sedangkan kasein dan pepton tidak. Ini adalah hasil pengujian dari Xanthoproteat. Berikut contoh struktur bangun protein yang berinti benzena :

—CH2CHCO2OH

NH2

Fenilanalin

Biuret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua molekul urea. Ion Cu2+ dari pereaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan ikatan peptida yang menyusun protein dan akan membentuk senyawa kompleks berwarna ungu. Hasil pengujian hanya pada albumin dan gelatin yang menunjukkan reaksi positif. Pada kasein dan pepton menunjukkan reaksi negatif. Ini berlainan dengan literatur, sedangkan fenol tidak bereaksi dengan biuret karena tidak mempunyai gugus -CO dan -NH pada molekulnya. Berikut ini merupakan proses pembantukan ikatan peptida :

Ikatan peptida

 

 

 

 

 

s

 

 

Protein yang tercampur oleh senyawa logam berat akan terdenaturasi. Hal ini terjadi pada albumin yang terkoagulasi setelah ditambahkan HgCl2 dan AgNO3. Senyawa logam tersebut akan memutuskan jembatan garam dan berikatan dengan protein membentuk endapan logam proteinat. Hasil pengamatan menunjukkan hasil negatif untuk Pb-asetat. Seharusnya endapan yang terbentuk pada Pb lebih banyak jika dibanding dengan Ag dan Hg, karena elektron valensi pada Pb lebih banyak dibanding dua logam lainnya.

Pengendapaan protein dengan garam terjadi pada konsentrasi garam yang tinggi, mengakibatkan kelarutannya berkurang, sehingga terjadi pengendapan. Pada percobaan, endapan yang direaksikan dengan pereaksi millon menunjukkan reaksi positif, pengujian kelarutan menggunakan akudes memperlihatkan reaksi positif yaitu larut dalam air. Sedangkan filtrat yang direaksikan dengan biuret menghasilkan reaksi negatif, dalam filtrat tidak ada lagi protein, karena protein telah mengendap seluruhnya.

Pada uji koagulasi, pengujian menggunakan pereaksi Millon, biuret dan air menunjukan reaksi negatif. Ini terjadi kesalahan pada pengujian menggunakan pereaksi Millon dan air, yang seharusnya menunjukkan reaksi positif dengan terjadinya pengendapan. Sedangkan pada uji biuret memperlihatkan reaksi negatif, hal ini benar karena filtrat jika tidak lagi terdapat protein akan memberikan reaksi negatif pada uji biuret.

Pada uji pengendapan oleh alkohol, struktur protein yang terdapat pada tabung satu dan dua terdenaturasi, karena keadaan basa dan asam yang berlebih. Pada kedua tabung tersebut terlihat adanya perbedaan warna, karena terjadi beda kepolaran atar larutan. Sedangkan pada tabung tiga protein tidak larut dan mengalami pengendapaan pada titik isolistriknya, yaitu pH dimana jumlah muatan positif sama dengan jumlah muatan negatifnya.

Pada uji denaturasi, ketiga tabung menunjukkan reaksi positif setelah ditambahkan buffer. Namun sebelum ditambahkan buffer hanya tabung tiga yang menunjukkan reaksi positif ditandai dengan terjadinya pengendapan pada titik isolistriknya, yaitu pH 4.7. Protein yang dilarutkan dalam HCl maupun NaOH, keduanya tidak menunjukkan adanya pengendapan, namun setelah ditambahkan buffer asetat terjadi pengendapan.

 

Simpulan

Uji Milon menunjukkan reaksi negatif karena terdapat kesalahan dalam pengujian. Pada uji Hopkins Cole albumin, gelatin, dan fenol mengandung triptofan. Reaksi uji Ninhidrin digunakan sebagai uji umum protein membentuk cincin ungu atau kuning. Pengujian belerang menunjukkan albumin mengandung sistein dan metionin. Protein yang mengandung inti benzena adalah albumin, gelatin, fenol terbukti melalui pengujian Xanthoproteat. Protein yang tercampur oleh senyawa logam berat akan terdenaturasi, begitu juga jika terjadi penambahan alkohol dan garam yang tinggi akan menyebabkan endapan, pengendapan terjadi pada titik isolistriknya yaitu pada pH 4.7.

VITAMIN

Pendahuluan

Vitamin adalah sekelompok senyawa organik kompleks yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil untuk pemeliharaan kesehatan. Vitamin dapat dibagi menjadi dua kelompok utama yaitu vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak contohnya adalah vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K yang dapat disimpan dalam tubuh tepatnya di hati. Sedangkan vitamin yang larut dalam air contohnya adalah vitamin C, dan vitamin B. Karena larut dalam air maka vitamin ini tidak disimpan dalam tubuh, jika berlebihan akan dikeluarkan melalui urin (Gaman 1992).

Vitamin C atau asam askorbat berwarna putih, membentuk kristal dan sangat larut dalam air. Vitamin C berfungsi untuk pembentukan semua jaringan tubuh terutama untuk pembentukan jaringan ikat, dan membantu absorbsi zat besi dalam usus halus. Karena vitamin C tidak disimpan dalam tubuh maka dibutuhkan asupan yang teratur. Jumlah vitamin C yang dibutuhkan tubuh adalah 1000 mg perharinya, jumlah tersebut sudah cukup untuk mengcegah scurvy dan dosis ini dapat diperoleh dengan menelan tablet asam askorbat (Gaman 1992).

Vitamin C dapat berbentuk sebagai asam L-askorbat dan asam L-dehidroaskorbat. Asam aaskorbat sangat mudah teroksidasi secara reversibel menjadi asam L-dehidroaskorbat (Ronald 2008). Sumber vitamin C sebagian besar berasal dari sayuran dan buah-buahan, terutama buah-buahan segar. Buah masih mentah lebih banyak kandungan vitamin C-nya, semakin tua buah semakin berkurang  kandungan vitamin C-nya. Vitamin C mudah larut dalam air dan mudah rusak oleh oksidasi, panas, dan alkali. Karena itu agar vitamin C tidak banyak hilang, sebaiknya pengirisan dan penghancuran yang berlebihan harus dihindari (Budiyanto 2002).

Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh, sebagai koenzim atau kofaktor. Asam askorbat adalah bahan yang kuat  kemampan reduksinya dan bertindak sebagai antioksidan dalam raksi-reaksi hidroksilasi. Beberapa turunan vitamin C (seperti asam eritrobik dan askorbik palmitat) digunakan sebagai antioksidan di dalam industry pangan untuk mencegah proses menjadi tengik, perubahan warna pada buah-buahan dan untuk mengawetkan daging. Fungsi vitamin C salah satunya untuk mencegah infeksi dengan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Selain itu vitamin C dapat  mencegah kanker serta penyakit jantung yang berkaitan dengan peranan vitamin sebagai antioksidan yang mempengaruhi pembentukan sel kanker (Almatsier 2006) .

Tujuan

            Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar vitamin C dalam tablet dan  vitamin C  sari buah.

 

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan antara lain pipet mohr, bulp, tabung erlenmeyer, pipet tetes, alat titrasi, batang pengaduk, dan corong.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi tablet vitamin C, sari buah, larutan tiosulfat 0.1 N, larutan pati, larutan iodin 0.1 N, akuades, dan larutan asam sulfat 2 N.

 

Prosedur percobaan

Blanko dibuat dengan cara 20 mL akuades dicampurkan 15 mL larutan iodin 0.1 N dan 5 mL H2SO4 2N dalam labu erlenmeyer. Campuran kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan tiosulfat 0.1 N sampai larutan berubah warna dari cokelat menjadi kekuningan. Sebanyak 4 tetes larutan pati kemudian ditambahkan ke dalamnya dan titrasi dilanjutkan kembali sampai larutan menjadi tak berwarna.

Penentuan kadar vitamin C dalam tablet. Tablet vitamin C yang telah digerus halus dilarutkan dengan akuades sebanyak 20 mL di dalam erlenmeyer. Sebanyak 5 mL asam sulfat 2 N dan sebanyak 15 ml iodin 0.1 N ditambahkan ke campuran tersebut. Campuran kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan tiosulfat 0.1 N sampai larutan berubah warna. Volume tiosulfat dicatat dengan teliti.

Penentuan kadar vitamin C dalam sari buah. Sari buah dipipet sebanyak 25 mL dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. Sebanyak 15 mL larutan iodin 0.1 N ditambahkan ke dalamnya. Campuran kemudian dititrasi dengan menggunakan larutan tiosulfat 0.1 N sampai terjadi perubahan warna dari cokelat menjadi kekuningan. Sebanyak 4 testes larutan pati ditambahkan ke dalam campuran dan titrasi dilanjutkan sampai terjadi perubahan warna larutan menjadi tidak berwarna seperti blanko. Volume tiosulfat yang terpakai dicatat dengan teliti.

Pembahasan

Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C termasuk golongan antioksidan karena sangat mudah teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam. Vitamin C dapat ditemukan pada sayur dan buah-buahan. Kelebihan vitamin C akan dikeluarkan melalui urine, sedangkan kekurangan vitamin ini akan menyebabkan penyakit sariawan atau askorbut dengan gejala pendarahan disekitar gusi, gigi, usus, menurunnya jumlah sel darah merah dan kerusakan sumsum.

Penentuan kadar vitamin C dalam tablet atau dalam sari buah dapat ditentukan melalui titrasi. Jenis titrasi yang digunakan termasuk dalam titrasi iodometri. Titrasi iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana oksidator yang dianalisis kemudian direaksikan dengan ion Iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantatif dan dititrasi dengan larutan standar atau asam. Titrasi Iodometri ini termasuk golongan titrasi redoks yang mengacu pada transfer elektron. Titrasi iodometri dapat dibedakan menjadi titrasi langsung dan titrasi tidak langsung. Titrasi langsung merupakan titrasi yang menggunakan alat sebagai titrat atau titran. Sementara itu pada titrasi tak langsung, alat tidak langsung terlibat dalam tahap titrasi (Harjadi 1986).

Dalam penentuan kadar vitamin C, titrasi iodometri yang digunakan ialah titrasi iodometri langsung dengan menggunakan tiosulfat sebagai titran, yang berdasarkan reaksi redoks antara iodin dengan larutan tiosulfat. Kestabilan larutan tiosulfat mudah dipengaruhi oleh pH rendah, sinar matahari, serta bakteri yang dapat memanfaatkan sulfur sebagai sumber energi. Selain itu, kestabilan larutan ini juga dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan.

Sebenarnya, titrasi ini dapat dilakukan tanpa indikator karena warna iodin yang ditritasi akan lenyap bila titik akhir tercapai. Warna yang terjadi ialah coklat tua menjadi lebih muda, lalu kuning, kuning muda, sampai warna benar-benar lenyap. Namun untuk lebih mudahnya, ditambahkan amilum sebagai indikator. Amilum dapat membentuk kompleks berwarna biru tua bila bereaksi dengan iodin. Penambahan amilum dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi yaitu saat warna menjadi kekuningan. Larutan H2SO4  berperan dalam penentuan kadar vitamin C. Reaksi kimia yang terjadi saat titrasi berlangsung lambat dalam larutan netral tetapi lebih cepat dalam larutan berasam. Oleh karena itu, H2SO4 sebagai katalisator yang mempercepat berlangsungnya reaksi kimia tetapi tidak ad pada hasil akhir reaksi.

Berdasarkan data hasil percobaan dapat diketahui bahwa kadar vitamin C dalam tablet sebesar 8.484 mg dan kadar vitamin C dalam sari buah sebesar 72.72 % (b/v). Penurunan konsentrasi ini disebabkan oleh adanya pengenceran beberapa kali sebelum sari buah digunakan. Penambahan amilum pada larutan vitamin C dari tablet tidak perlu dilakukan karena pada tablet vitamin C sudah mengandung pati. Sementara untuk titrasi vitamin C dalam sari buah menggunakan pati.

Kadar vitamin C dalam tablet atau dalam sari buah sebenarnya tidak dapat dibandingkan. Kadar vitamin C dalam tablet adalah buatan manusia sehigga dapat disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Sedangkan kadar vitamin C dalam sari buah tergantung habitat dan nutrisi yang diberikan untuk pertumbuhannya. Jika habitanya mendukung serta asupan nutrisi untuk perkembangan buah tersebut baik, maka kadar vitamin C tersebut akan tinggi. Vitamin C mudah larut dalam air dan mudah rusak oleh oksidasi, panas, dan alkali. Karena itu agar vitamin C tidak banyak hilang, sebaiknya pengirisan dan penghancuran yang berlebihan harus dihindari.  

Hasil yang didapat tidak terlepas oleh adanya berbagai kesalahan yang mungkin terjadi. Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi antara lain kurang akurat yang dipengaruhi oleh adanya kesalahan oksigen. Adanya oksigen di udara dapat menyebabkan hasil titrasi terlalu tinggi karena dapat mengoksidasi ion iodida menjadi iodin. Selain itu, pH tinggi dapat menyebabkan bereaksinya iodin dengan air sehingga menyebabkan penggunaan larutan tiosulfat menjadi menurun.

Kesalahan lain yang terjadi saat praktikum adalah kurang teliti dalam pembacaan buret, sehingga mempengaruhi volume terpakai untuk mentitrasi tersebut. Selain itu blanko yang harusnya menjadi patokan warna tak dapat menjadi pembanding untuk kedua sampel yang digunakan karena hasilnya berlainan. Ataupun pemberian amilum yang terlalu awal juga dapat mempengaruhi hasil secara signifikan.

 

Simpulan

Titrasi vitamin C menggunakan metode iodometri untuk menentukan kadar vitamin C. Kadar vitamin C dalam tablet sebesar 8.484 mg dan kadar vitamin C dalam sari buah sebesar 72.72 % (b/v). Kadar vitamin C dalam sari buah dipengaruhi oleh nutrisi yang diberikan pada buah dan lingkungan yang mendukung. Terdapat kesalahan dalam membaca buret untuk pengukuran kadar vitamin C dalam tablet, sehingga data yang didapat kurang tepat.

Design a site like this with WordPress.com
Get started